Posisi WTI dan Brent mulai kehilangan momentum reli dan bergerak dalam fase konsolidasi dengan bias melemah.
WTI bertahan di kisaran USD62–USD63 per barel setelah gagal mempertahankan kenaikan di atas area USD65–USD66 pada awal pekan.
Level USD62 menjadi titik krusial karena berimpit dengan rata-rata pergerakan 200 hari sekaligus area pivot yang beberapa kali berfungsi sebagai support dan resistance.
Selama harga masih bertahan di atas zona USD61–USD62, pemulihan sejak Desember dari area USD55 secara teknikal masih terjaga.
Namun penembusan bersih ke bawah USD61 membuka ruang koreksi menuju USD60, bahkan ke zona padat USD58–USD60 yang sebelumnya menjadi batas atas pada musim dingin lalu.
Brent bergerak sedikit lebih kuat. Diperdagangkan di sekitar USD67–USD68 dan tepat di tengah rentang USD65–USD70.
Area USD65 menjadi support struktural dengan dukungan rata-rata 50 hari, sedangkan USD70 telah berulang kali menjadi tembok jual.
Selama belum ada penembusan tegas di salah satu sisi rentang tersebut, Brent berada dalam rezim sideways dengan kecenderungan momentum yang mulai memudar.
Proyeksi Fundamental IEA
Perubahan arah pasar tidak hanya didorong faktor teknikal, tetapi juga oleh pembaruan proyeksi fundamental dari International Energy Agency
Lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2026 menjadi sekitar 850 ribu barel per hari dari sebelumnya 930 ribu barel per hari.
Pada saat yang sama, suplai global diperkirakan melonjak sekitar 2,4 juta barel per hari hingga mencapai 108,6 juta barel per hari.
Selisih antara pertumbuhan pasokan dan permintaan ini menciptakan potensi surplus struktural yang signifikan.
IEA bahkan memperingatkan kemungkinan kelebihan pasokan di atas 3,7 juta barel per hari pada 2026.
Dalam sejarah pasar minyak, ketidakseimbangan sebesar itu biasanya menekan harga secara berkelanjutan kecuali produsen melakukan pemangkasan produksi tambahan.
Data tersebut memicu penurunan harga harian sekitar 3 persen dan mempertegas bahwa narasi bullish berbasis geopolitik kini berhadapan dengan realitas volume yang jauh lebih berat.
Proyeksi Pertumbuhan OPEC+
Di sisi OPEC+, gambaran jangka pendek terlihat lebih konstruktif, tetapi belum cukup untuk membatalkan cerita surplus jangka menengah.
Produksi kelompok tersebut dilaporkan turun sekitar 439 ribu barel per hari bulan lalu akibat gangguan di Kazakhstan.
OPEC juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan tahun ini di kisaran 1,38 juta barel per hari.
Namun sinyal bahwa OPEC+ mempertimbangkan melanjutkan kenaikan produksi mulai April, saat WTI masih berada di kisaran rendah USD60-an, menunjukkan keyakinan internal bahwa pasar akan mampu menyerap tambahan barel atau bahwa tekanan surplus memang tak terelakkan.
Stok Minyak AS
Data Amerika Serikat semakin memperkuat tekanan fundamental. Laporan Energy Information Administration menunjukkan lonjakan stok minyak mentah sebesar 8,53 juta barel, disertai kenaikan produksi hampir 500 ribu barel per hari.
Kombinasi peningkatan stok dan produksi tersebut tidak sejalan dengan gambaran pasar yang ketat.
Ketika premi risiko geopolitik mulai menyusut akibat meredanya kekhawatiran eskalasi AS–Iran, fokus investor langsung kembali pada angka-angka pasokan ini.
Geopolitik kini berfungsi lebih sebagai pembatas kenaikan ketimbang pendorong reli.
Ketika pembicaraan nuklir AS–Iran diperpanjang dan probabilitas konflik langsung menurun, pasar tidak lagi memasukkan premi risiko tambahan USD10–USD15 per barel seperti pada fase ketegangan sebelumnya.
Selama kabar yang muncul berkisar pada “negosiasi” dan bukan “penutupan jalur” atau “serangan”, harga cenderung sulit menembus resistensi utama.
Secara keseluruhan, sentimen minyak dunia sedang bertransisi dari euforia risiko geopolitik menuju kehati-hatian berbasis surplus struktural.
WTI berada di garis penentu di sekitar USD62, sementara Brent terjebak di tengah rentang USD65–USD70.
Selama data pasokan dan stok terus menunjukkan kelonggaran, reli di atas USD65 untuk WTI atau USD70 untuk Brent akan menghadapi resistensi kuat.
Arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh kebijakan produksi OPEC+, data inventori lanjutan, serta kejelasan sinyal dari IEA dan lembaga energi lainnya mengenai keseimbangan 2026.


Leave a Reply