Data perdagangan menunjukkan foreign net buy mencapai Rp50,19 miliar dari total nilai transaksi Rp97,06 miliar, atau setara 51,7 persen dari total value.
Komposisi ini menempatkan asing sebagai penggerak utama transaksi, dan mencerminkan adanya akumulasi yang dominan di tengah sentimen positif sektor nikel.
Minat beli tersebut muncul bersamaan dengan fase baru transformasi bisnis INCO. Mulai 2026, perusahaan akan memasuki tahap monetisasi bijih nikel atau ore, seiring target peningkatan produksi hingga 20 juta wet metric ton
Strategi ini memperluas sumber pendapatan, yang selama ini bertumpu pada produk nickel matte, sekaligus membuka kontribusi baru dari penjualan ore langsung ke pasar.
Komposisi produksi yang disiapkan terdiri dari 10 juta wmt limonite dan 5 juta wmt saprolite dari Pomalaa, serta 5 juta wmt saprolite dari Bahodopi.
Monetisasi ini diproyeksikan mampu menyumbang hingga 33 persen terhadap total pendapatan INCO pada 2026.
Dengan porsi tersebut, struktur pendapatan perusahaan akan menjadi lebih terdiversifikasi dan tidak semata bergantung pada harga nickel matte.
Dari sisi komoditas, momentum juga berpihak pada INCO. Harga nikel dunia dalam sebulan terakhir melonjak lebih dari 20 persen hingga mencapai sekitar USD17.700 per ton.
Secara tahunan, kenaikan harga telah mencapai 12,99 persen, memperlihatkan tren pemulihan yang signifikan dibandingkan fase tekanan sebelumnya.
Penguatan ini memberikan leverage langsung terhadap proyeksi pendapatan dan margin, mengingat INCO beroperasi dalam rantai pasok hulu yang sensitif terhadap harga global.
Ke depan, asumsi harga nikel untuk periode 2025–2026 diperkirakan berada di kisaran USD17.000–17.500 per ton.
Proyeksi ini sejalan dengan potensi pemangkasan produksi ore domestik hingga 34 persen berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya2025.
Pengurangan suplai domestik tersebut berpotensi menjaga keseimbangan pasar dan menopang harga pada level yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata beberapa tahun terakhir.
Arus masuk dana asing yang mencapai lebih dari separuh total transaksi memperlihatkan bahwa pelaku institusi global mulai memposisikan diri sebelum fase monetisasi ore berjalan penuh pada 2026.
Kombinasi peningkatan volume produksi, diversifikasi sumber pendapatan, dan tren harga nikel yang menguat membentuk landasan fundamental yang menjadi daya tarik utama saham ini.
Dalam konteks perdagangan, dominasi foreign net buy sebesar 51,7 persen dari total nilai transaksi menandakan keyakinan investor asing terhadap prospek jangka menengah INCO.
Momentum harga komoditas dan agenda ekspansi produksi menjadi dua katalis utama yang mendorong akumulasi tersebut, sekaligus mengangkat posisi INCO dalam peta saham berbasis nikel di Bursa Efek Indonesia.
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply