Dilansir dari BeInCrypto, manajemen menyampaikan bahwa penurunan harga Bitcoin dalam skala sangat dalam berpotensi mulai membebani model treasury berbasis aset kripto yang selama ini dijalankan perusahaan.
Dalam paparan kinerja terbaru, Chief Executive OfficerStrategy Phong Le menjelaskan bahwa penurunan harga Bitcoin hingga sekitar 90 persen, atau ke kisaran USD8.000, akan menjadi titik di mana nilai cadangan Bitcoin perusahaan setara dengan utang bersih yang dimiliki.
Pada level tersebut, Strategy dinilai tidak lagi mampu melunasi kewajiban utang konversi hanya dengan aset Bitcoin yang dimiliki.
Kondisi ini dapat memaksa perusahaan mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk restrukturisasi kewajiban, penerbitan saham baru, atau penambahan utang di masa mendatang.
“Pada skenario downside ekstrem, jika terjadi penurunan harga Bitcoin sebesar 90 persen menjadi USD8.000, yang sejujurnya sangat sulit dibayangkan, itulah titik di mana cadangan BTC kami setara dengan utang bersih kami dan kami tidak akan mampu melunasi utang konversi hanya dengan cadangan Bitcoin sehingga kami harus mempertimbangkan restrukturisasi, menerbitkan ekuitas tambahan, atau menerbitkan utang baru.
Dan perlu saya ingatkan: ini diproyeksikan dalam lima tahun ke depan. Jadi, untuk saat ini saya sama sekali tidak khawatir, bahkan jika harga Bitcoin turun,” ujar Le.
Manajemen menekankan bahwa skenario tersebut dipandang memiliki probabilitas sangat rendah dan diproyeksikan baru relevan dalam jangka waktu beberapa tahun, sehingga perusahaan masih memiliki ruang untuk merespons apabila kondisi pasar memburuk secara signifikan.
Pernyataan ini muncul beberapa bulan setelah Strategy mengakui adanya kondisi tertentu yang dapat memicu penjualan Bitcoin.
Sebelumnya, Phong Le menjelaskan bahwa penjualan aset kripto dapat terjadi apabila saham perusahaan diperdagangkan di bawah 1x multiple of net asset valuedan perusahaan tidak lagi memiliki akses efektif ke pasar modal.
Dalam penjelasan terpisah, Le menyebut dua prasyarat utama yang dapat memaksa penjualan Bitcoin, yakni ketika kapitalisasi pasar perusahaan berada di bawah nilai kepemilikan Bitcoin dan ketika Strategy tidak mampu menghimpun dana baru melalui penerbitan saham maupun utang.
Dalam konteks tersebut, akses pendanaan yang tertutup atau biaya modal yang terlalu mahal menjadi faktor kunci.
Pengungkapan terbaru ini memperluas kerangka risiko yang disampaikan manajemen.
Jika sebelumnya tekanan likuiditas dan valuasi saham menjadi pemicu utama, kini Strategy juga menyoroti risiko pembayaran utang dalam skenario penurunan harga Bitcoin yang sangat ekstrem, yang tidak serta-merta harus diselesaikan melalui penjualan aset kripto.
Hingga awal Februari 2026, Strategy tercatat sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, dengan total sekitar 713.502 BTC.
Kepemilikan tersebut diperoleh dengan biaya akumulatif sekitar USD54,26 miliar, berdasarkan laporan keuangan kuartal keempat yang dirilis perusahaan.
Namun, koreksi harga Bitcoin pada akhir 2025 berdampak signifikan terhadap neraca keuangan.
Strategy membukukan kerugian aset digital belum terealisasi sebesar USD17,4 miliar pada kuartal tersebut, serta mencatat rugi bersih sebesar USD12,4 miliar, mencerminkan sensitivitas kinerja keuangan terhadap fluktuasi harga Bitcoin.
Di tengah tekanan tersebut, Strategy juga mencatat aktivitas penggalangan dana yang besar. Sepanjang 2025, perusahaan menghimpun dana sekitar USD25,3 miliar, menjadikannya salah satu penerbit ekuitas terbesar di Amerika Serikat.
Perusahaan juga menyebut telah membangun cadangan kas sekitar USD2,25 miliar untuk menutup kewajiban dividen dan bunga selama kurang lebih dua setengah tahun.
Pengungkapan ini berlangsung di tengah meningkatnya volatilitas pasar kripto.
Bitcoin sempat diperdagangkan di kisaran USD70.000 pada awal Februari sebelum turun bertahap hingga menyentuh level terendah intraday di sekitar USD60.000 pada 6 Februari.
Pergerakan tersebut menyoroti sensitivitas strategi treasury berbasis leverage terhadap perubahan harga yang cepat.
Struktur modal Strategy saat ini bertumpu pada kombinasi utang, ekuitas preferen, dan instrumen konversi yang digunakan untuk mengakumulasi Bitcoin selama beberapa tahun terakhir.
Pendekatan ini memperbesar keuntungan saat pasar menguat, namun juga meningkatkan eksposur kerugian ketika harga terkoreksi.
Di sisi lain, Executive Chair Strategy Michael Saylor kembali menegaskan keyakinannya terhadap Bitcoin sebagai aset jangka panjang.
Saylor menyebut Bitcoin sebagai “transformasi digital dari modal” dan menegaskan komitmen perusahaan untuk mempertahankan strategi kepemilikan jangka panjang.
Sementara itu, respons investor terhadap pengungkapan risiko ini terpantau beragam.
Sebagian pelaku pasar menilai cadangan Bitcoin yang besar, fleksibilitas penerbitan ekuitas, serta jatuh tempo utang yang relatif panjang memberikan ruang manuver yang memadai.
Di sisi lain, sebagian investor tetap menyoroti potensi risiko dilusi saham, tekanan struktur modal, serta kemungkinan keputusan sulit apabila pasar bearish berkepanjangan.


Leave a Reply