Pasar yang sebelumnya bergairah kini berubah muram, tertekan proyeksi melimpahnya pasokan global, perlambatan laju konsumsi, serta meredanya tensi di Timur Tengah yang sempat menjadi penopang psikologis.

Minyak mentah berjangka Brent—acuan internasional—ditutup merosot USD1,88 atau 2,71 persen ke level USD67,52 per barel, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Houston, Kamis 12 Februari atau Jumat 13 Februari 2026 pagi WIB.

Di saat yang sama, patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate, terkoreksi USD1,79 atau 2,77 persen menjadi USD62,84 per barel. Koreksi ini bukan sekadar fluktuasi harian.

Ia mencerminkan perubahan arus besar sentimen. Seperti dikutip reuters.

Tekanan harga menguat setelah laporan bulanan International Energy Agencymemproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini lebih lambat dari taksiran sebelumnya, seraya memperingatkan potensi surplus pasokan yang substansial, meskipun Januari sempat diwarnai gangguan produksi.

Publikasi itu membalikkan reli yang sempat terbentuk akibat kekhawatiran eskalasi antara Washington dan Teheran. Ketika sinyal keberlanjutan negosiasi mencuat, risk premium geopolitik pun tereduksi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan saat meninggalkan Washington bahwa Presiden Donald Trump tampaknya tengah merumuskan jalan keluar atas konflik dengan Iran terkait program nuklir.

Isyarat diplomatik itu dinilai meredakan bara ketidakpastian.

“Fakta bahwa Presiden Trump terus bernegosiasi dengan Iran akan menurunkan risiko geopolitik,” ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Ia juga menyoroti bahwa proyeksi IEA mengindikasikan reduksi permintaan yang cukup signifikan pada 2026. Pasar, tambahnya, mulai mengalkulasi tambahan pasokan, termasuk potensi peningkatan produksi dari Venezuela.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan usai pembicaraan dengan Netanyahu bahwa belum ada kesepakatan final mengenai langkah terhadap Iran. Namun dialog dengan Teheran akan terus berlanjut.

Bahkan, ia menyebut kemungkinan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah bila kesepakatan tak tercapai. Jadwal dan lokasi perundingan berikutnya masih dirahasiakan.

Baca juga:  BREAKING: BEI Kunci Perdagangan Saham DATA dan HUMI, Ini Pemicu di Balik Aksi ARA!

Ketidakpastian tetap ada, tetapi nadanya tak lagi sekeras sebelumnya.

Dari sisi domestik AS, tekanan tambahan muncul akibat lonjakan persediaan.

Data Energy Information Administrationmenunjukkan stok minyak mentah melonjak 8,5 juta barel pekan lalu menjadi 428,8 juta barel—jauh melampaui ekspektasi analis yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 793.000 barel.

Pada saat bersamaan, tingkat utilisasi kilang turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4 persen. Angka ini memberi sinyal pelemahan permintaan pengolahan dalam jangka pendek.

Di panggung global, arus pasokan juga menguat. Ekspor produk minyak Rusia melalui jalur laut pada Januari meningkat sekitar 0,7 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi 9,12 juta metrik ton.

Kenaikan itu ditopang produksi bahan bakar yang tinggi serta merosotnya permintaan domestik musiman.

Kombinasi faktor-faktor ini membentuk lanskap baru: pasar yang kian jenuh, dengan optimisme yang menipis dan kalkulasi risiko yang lebih rasional.

Leave a Reply

investografi