...

Indeks sentimen konsumen tercatat naik ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Namun di balik kenaikan itu, kegelisahan terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan mahalnya biaya hidup akibat inflasi yang dipicu tarif impor masih terasa luas.

Laporan terbaru yang dirilis Survei Konsumen Universitas Michigan pada Jumat lalu mencatat peningkatan sentimen untuk bulan ketiga berturut-turut. Kenaikan ini terutama datang dari kelompok masyarakat yang memiliki portofolio saham besar.

Fakta tersebut sekaligus menguatkan gambaran ekonomi berbentuk K, di mana rumah tangga berpendapatan tinggi terus menikmati keuntungan, sementara kelompok berpendapatan rendah masih berjuang menghadapi tekanan ekonomi.

Ekonom pasar keuangan dari Nationwide, Oren Klachkin, menilai perbaikan ini bisa menjadi titik terendah yang mulai terlewati. Namun ia juga mengingatkan bahwa pemulihan belum tentu berjalan cepat.

“Kita mungkin telah melihat titik terendah dalam sentimen konsumen karena fundamental yang positif seharusnya mendukung sikap masyarakat pada 2026, selama aksi jual pasar saham baru-baru ini tidak berlanjut,” kata Klachkin, dikutip dari Reuters, Sabtu, 7 Februari 2026.

“Meski begitu, kami tidak optimistis akan terjadi lonjakan tajam dalam sentimen konsumen.”

Menurut Universitas Michigan, Indeks Sentimen Konsumen bulan ini naik menjadi 57,3. Angka itu merupakan level tertinggi sejak Agustus tahun lalu, meningkat dari posisi 56,4 pada Januari.

Sebelumnya para ekonom yang disurvei Reuters justru memperkirakan indeks akan melemah ke 55,0.

Walau membaik, tingkat kepercayaan konsumen saat ini masih sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan level Januari 2025. Artinya, pemulihan yang terjadi belum sepenuhnya menghapus pesimisme yang sudah terbangun sejak tahun lalu.

Survei tersebut dilakukan sebelum terjadinya gejolak pasar saham pekan ini, yang dipicu kekhawatiran investor atas belanja besar perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan.

Baca juga:  Cara Berinvestasi di Sukuk Ritel untuk Pemula

Pada Jumat, pasar saham Wall Street kembali menguat setelah sebelumnya tertekan. Sementara itu, nilai tukar dolar bergerak stabil terhadap sejumlah mata uang utama dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan.

Direktur Survei Konsumen Universitas Michigan, Joanne Hsu, menjelaskan bahwa perbaikan sentimen ternyata tidak dirasakan merata oleh seluruh kelompok masyarakat.

“Sentimen melonjak untuk konsumen dengan portofolio saham terbesar, sementara stagnan dan tetap berada pada level suram bagi konsumen tanpa kepemilikan saham,” ujar Hsu.

“Kekhawatiran tentang tergerusnya keuangan pribadi akibat harga yang tinggi dan risiko kehilangan pekerjaan yang meningkat masih terus meluas.”

Perbedaan pandangan juga terlihat dari latar belakang politik responden. Sentimen membaik di kalangan konsumen yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung Partai Republik maupun Partai Demokrat. Namun justru melemah di kelompok pemilih independen.

Kenaikan sentimen versi Universitas Michigan ini berbanding terbalik dengan hasil survei lain yang dilakukan Conference Board. Indeks Kepercayaan Konsumen versi lembaga tersebut justru anjlok pada Januari ke level terendah sejak Mei 2014.

Meski berbeda arah, kedua survei sama-sama menyoroti meningkatnya rasa apatis masyarakat terhadap kondisi pasar kerja.

Data pemerintah yang dirilis pada Kamis juga memperkuat gambaran tersebut. Jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat turun ke titik terendah dalam lebih dari lima tahun pada Desember.

Rasio lowongan pekerjaan terhadap jumlah pengangguran hanya sebesar 0,87, turun dari 0,89 pada November. Angka itu menunjukkan peluang kerja yang makin terbatas bagi pencari kerja.

Di tengah tekanan harga yang masih tinggi, ada sedikit kabar baik dari sisi ekspektasi inflasi. Konsumen memperkirakan laju inflasi akan mulai mereda dalam 12 bulan ke depan.

Ukuran ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan dalam survei tersebut turun menjadi 3,5 persen, level terendah dalam 13 bulan, dibandingkan 4,0 persen pada Januari.

Baca juga:  HUMI Perkuat Armada dengan Dua Kapal Baru, Siap Pacu Ekspansi Bisnis!

Sejumlah ekonom menilai penurunan ini menunjukkan keyakinan bahwa dampak terburuk dari kenaikan harga akibat tarif impor mungkin sudah terlewati.

Namun untuk jangka lebih panjang, kekhawatiran justru sedikit meningkat. Ekspektasi inflasi lima tahun ke depan naik tipis menjadi 3,4 persen dari 3,3 persen pada bulan sebelumnya.

Kepala penasihat ekonomi Brean Capital, John Ryding, menilai perkembangan ini tetap perlu dicermati oleh bank sentral Amerika Serikat.

“Bank sentral telah menekankan pentingnya ekspektasi jangka menengah dan angka ini naik untuk bulan kedua berturut-turut,” kata Ryding.

“Meski demikian, semua ini tidak mengubah keputusan suku bunga pada pertemuan Maret mendatang, dan sejauh keputusan itu bergantung pada data, penentu utamanya tetap laporan ketenagakerjaan Januari dan Februari.”

Secara keseluruhan, gambaran ekonomi Amerika Serikat masih terlihat campur aduk. Kepercayaan konsumen memang mulai bangkit, tetapi tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan belum sepenuhnya mereda.

Bagi banyak rumah tangga, terutama yang berpendapatan rendah, jalan menuju pemulihan masih terasa panjang.

Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.

Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.

Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Leave a Reply

investografi