Data operasional terbaru mengindikasikan bahwa struktur pendapatan MDKA kian bergeser, dengan ketergantungan yang semakin besar pada MBMA dan Wetar sebagai penopang kinerja jangka pendek.
Pada kuartal IV 2025, MDKA diperkirakan membukukan EBITDA sebesar USD122 juta, naik tipis sekitar 2 persen secara kuartalan.
Kenaikan ini bukan berasal dari bisnis emas, melainkan ditopang oleh lonjakan penjualan bijih limonit dan dimulainya kembali penjualan high-grade nickel mattedi MBMA.
Tidak hanya itu, perbaikan volume penjualan tembaga di Wetar yang melonjak 35 persen dibanding kuartal sebelumnya, juga menjadi penopang.
Kombinasi ini menjadi faktor utama yang menahan tekanan dari penurunan tajam volume penjualan emas Tujuh Bukit.
Di sisi emas, performa Tujuh Bukit Oxide justru melemah signifikan. Volume penjualan emas pada kuartal IV 2025 dilaporkan hanya 15 ribu ounce, anjlok 49 persen secara kuartalan.
Penurunan ini terjadi meski produksi emas justru meningkat 7 persen menjadi 27 ribu ounce. Di sini, ada jeda antara produksi dan realisasi penjualan.
Rata-rata harga jual emas memang membaik, naik 13 persen secara kuartalan ke level USD3.700 per ounce, namun kenaikan tersebut tergerus oleh lonjakan cash cost yang naik tajam 29 persen menjadi USD1.900 per ounce.
Dengan struktur biaya yang membengkak, perbaikan harga tidak cukup untuk mengangkat kontribusi margin emas pada kuartal ini.
MDKA memperkirakan penjualan emas Tujuh Bukit akan pulih pada kuartal I 2026 seiring realisasi penjualan persediaan, dengan panduan volume penjualan emas tahun buku 2026 di kisaran 80–90 ribu ounce.
Wetar Kalahkan Tujuh Bukit
Segmen Wetar justru menjadi salah satu titik terang.
Volume penjualan tembaga meningkat 35 persen secara kuartalan menjadi 3,4 ribu ton, seiring dengan kenaikan harga jual rata-rata tembaga sebesar 9 persen ke USD4,8 per pound, mengikuti tren kenaikan harga global.
Cash cost relatif stabil di level USD2,7 per pound, sehingga perbaikan volume dan harga langsung tercermin pada peningkatan kontribusi EBITDA. Meski demikian, prospek Wetar ke depan cenderung lebih terbatas.
MDKA memproyeksikan volume penjualan tembaga tahun buku 2026 hanya berada di kisaran 4–5 ribu ton, jauh lebih rendah dibanding capaian tahun 2025 yang mencapai 10 ribu ton, seiring penghentian aktivitas penambangan sejak kuartal III 2025.
Kontributor terbesar pada kuartal IV 2025 datang dari MBMA. Segmen ini diperkirakan mencatatkan EBITDA sebesar USD100 juta, melonjak 56 persen secara kuartalan.
Lonjakan tersebut terutama didorong oleh dimulainya kembali penjualan HGNM dengan volume sekitar 8,9 ribu ton.
Selain itu, peningkatan tajam volume penjualan bijih limonit hingga 95 persen secara kuartalan, serta perbaikan margin bijih saprolit yang meningkat dua kali lipat seiring kenaikan harga patokan mineral, juga menjadi pendorong utama.
Selain itu, penjualan asam sulfat dari proyek AIM di MBMA diperkirakan mampu menutup sebagian besar biaya operasional unit lain, termasuk emas, tembaga, dan besi, yang belum menghasilkan penjualan karena masih menunggu perizinan.
Secara konsolidasi, proyeksi keuangan MDKA menunjukkan volatilitas yang tinggi.
Pendapatan tahun 2025 diperkirakan turun menjadi USD1,77 miliar sebelum kembali melonjak tajam pada 2026 menjadi hampir USD3 miliar dan meningkat lagi pada 2027.
EBITDA diproyeksikan naik signifikan dari USD382 juta pada 2025 menjadi USD673 juta pada 2026 dan USD936 juta pada 2027, mencerminkan kontribusi penuh MBMA dan pergeseran portofolio bisnis.
Namun, laba bersih masih diproyeksikan negatif hingga 2026 sebelum berbalik positif pada 2027, sejalan dengan tekanan biaya, depresiasi, dan beban pembiayaan yang masih tinggi.
Dengan struktur tersebut, MDKA tetap dipandang memiliki profil pertumbuhan jangka menengah yang menarik, terutama dari bisnis nikel.
Rekomendasi beli dipertahankan dengan target harga yang masih dalam peninjauan, menunggu rilis resmi kinerja kuartal IV 2025.
Risiko utama yang membayangi mencakup potensi keterlambatan pemilihan mitra proyek tembaga Tujuh Bukit, risiko eksekusi pada proyek EMAS dan MBMA, serta tekanan harga komoditas global jika kebijakan moneter Amerika Serikat kembali bersikap lebih ketat.
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply