Sebagian pusat keuangan utama libur, seperti China, Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat. Akibatnya, likuiditas menurun dan volatilitas lintas aset cenderung terbatas.

Nikkei Menguat

Dalam kondisi tersebut, indeks Nikkei Jepang masih mampu menguat 0,2 persen, melanjutkan momentum kenaikan sekitar 5 persen pada pekan sebelumnya. Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,1 persen.

Kenaikan yang lebih tajam sebelumnya tercatat di Korea Selatan sebesar 8,2 persen dalam sepekan dan Taiwan hampir 6 persen, terutama ditopang saham sektor teknologi dan memori.

Data ekonomi Jepang menjadi salah satu faktor penahan sentimen. Produk domestik bruto Jepang pada kuartal Desember tercatat tumbuh 0,1 persen secara tahunan, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,6 persen.

Perlambatan ini terjadi di tengah lemahnya belanja pemerintah, yang berkontribusi pada tekanan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

Meskipun demikian, respons pasar saham Jepang relatif terbatas. Penguatan Nikkei menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mempertahankan posisi setelah reli sebelumnya, sementara data makro yang lemah belum langsung memicu aksi jual signifikan.

Bursa Amerika Serikat

Dari sisi global, pelaku pasar menanti rilis survei manufaktur global dan laporan produk domestik bruto Amerika Serikat kuartal keempat.

Konsensus memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 3,0 persen secara tahunan, melambat dari 4,4 persen pada kuartal sebelumnya.

Angka tersebut masih mencerminkan kondisi ekonomi yang ekspansif, meskipun momentum pertumbuhan mulai menurun.

Di pasar Amerika, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2 persen dan Nasdaq futures menguat 0,1 persen, sementara futures EUROSTOXX 50 bergerak datar dan DAX futures naik 0,2 persen.

Pergerakan yang relatif terbatas ini mencerminkan pendekatan wait and see menjelang rilis data dan lanjutan musim laporan keuangan.

Baca juga:  Keuntungan dan Risiko Berinvestasi di Startup Teknologi Baru

Perhatian investor juga tertuju pada kinerja Walmart sebagai indikator tren belanja konsumen AS.

Saham perusahaan tersebut telah naik sekitar 20 persen sepanjang tahun ini dan mendorong kapitalisasi pasar melampaui USD1 triliun, menjadikannya salah satu emiten terbesar di sektor kebutuhan pokok konsumen.

Data penjualan ritel Desember yang sebelumnya mengecewakan menjadi latar belakang penting dalam membaca arah konsumsi domestik AS.

Sektor Teknologi Melemah 24 Persen

Di sektor teknologi, terjadi pergeseran alokasi aset menuju saham defensif. Sektor teknologi tercatat kehilangan sekitar 24 persen nilai pasar dalam tiga bulan terakhir.

Di saat yang sama, belanja modal perusahaan teknologi raksasa diperkirakan mencapai USD660 miliar, meningkat USD120 miliar sejak awal musim laporan keuangan.

Lonjakan belanja modal tersebut disertai penurunan aksi pembelian kembali saham di indeks S&P 500 sebesar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan mencatat stagnasi selama tiga kuartal berturut-turut.

Perubahan struktur arus kas ini berimplikasi pada dinamika valuasi dan preferensi investor global, termasuk di Asia yang memiliki eksposur besar terhadap rantai pasok teknologi dan semikonduktor.

US Treasury Turun, Dolar Melemah

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun turun ke 3,408 persen, menjadi level penutupan terendah sejak pertengahan 2022.

Penurunan ini terjadi setelah data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, yang memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

Pasar berjangka memperkirakan peluang 68 persen pemangkasan suku bunga pada Juni, dengan total pelonggaran sekitar 62 basis poin sepanjang 2026.

Penurunan imbal hasil turut menekan Indeks Dolar ASyang melemah 0,8 persen dalam sepekan ke level 96,890. Dolar AS diperdagangkan di kisaran 152,94 yen setelah turun 2,9 persen pada pekan sebelumnya.

Baca juga:  BJBR Heboh! Laba Jeblok Tapi NII Meroket, Ternyata Ini Biaya yang Bikin Kaget

Euro relatif stabil di USD1,1870, sementara penguatan franc Swiss mendorong euro turun di bawah 0,9100 franc untuk pertama kalinya sejak 2015.

Di pasar komoditas, harga emas melemah 0,5 persen ke USD5.014 per ons setelah periode volatilitas tinggi akibat likuidasi posisi leverage.

Harga minyak bergerak stabil, dengan Brent di USD67,74 per barel dan WTI di USD62,87 per barel, menyusul laporan bahwa OPEC cenderung melanjutkan peningkatan produksi mulai April.

Secara keseluruhan, pasar Asia bergerak dalam fase konsolidasi dengan likuiditas terbatas dan sensitivitas tinggi terhadap data makro global.

Sentimen dipengaruhi kombinasi antara perlambatan ekonomi Jepang, ekspektasi kebijakan moneter AS, rotasi sektor global, serta dinamika harga komoditas dan mata uang utama.

Leave a Reply

investografi