Nafan Aji Gusta, menilai momentum Ramadan berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk, terutama dari sisi fundamental penjualan.
Namun demikian, ia masih memberikan rekomendasi wait and see terhadap saham tersebut.
Menurut Nafan, periode musiman seperti Imlek, Ramadan, hingga lebran secara historis mampu mendorong konsumsi domestik.
Kondisi itu berpeluang meningkatkan penjualan emiten sektor consumer goods yang produknya sangat terkait dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Berdasarkan kinerja penjualan, semestinya momentum Imlek dikombinasikan dengan Ramadan maupun lebaran bisa menjadi katalis positif bagi peningkatan konsumsi domestik.
Meski prospek fundamental dinilai positif, Nafan menegaskan keputusan investasi tidak hanya bergantung pada faktor musiman, tetapi juga pergerakan dana besar di pasar.
Ia menyebut indikator masuknya smart money masih menjadi penentu utama sebelum memberikan rekomendasi beli.
Ia menjelaskan, apabila aliran dana besar mulai masuk ke saham tersebut, maka peluang rekomendasi dapat berubah menjadi lebih agresif. Sebaliknya, jika belum ada sinyal akumulasi investor besar, sikap menunggu dinilai lebih bijak.
“Kalau smart money sudah masuk, tentu rekomendasinya bisa berbeda. Tapi kalau belum ada tanda-tanda, saya pikir rekomendasi wait and see masih lebih bijaksana,” katanya.
Secara keseluruhan, Nafan melihat saham INDF tetap memiliki prospek jangka menengah yang menarik berkat fundamental bisnis yang kuat dan potensi kenaikan konsumsi selama periode hari besar keagamaan.
Namun dalam jangka pendek, investor disarankan mencermati sinyal teknikal serta arus dana pasar sebelum mengambil posisi.
Fundamental dan Teknikal INDF
Di luar sentimen musiman, data konsensus analis menunjukkan fondasi kinerja INDF masih tumbuh stabil dalam dua tahun ke depan.
Proyeksi pendapatan perseroan pada 2024 berada di level Rp115,78 triliun dan diperkirakan meningkat menjadi Rp121,05 triliun pada 2025 serta Rp127,17 triliun pada 2026.
Kenaikan ini diikuti perbaikan laba bersih yang diproyeksikan naik dari Rp8,64 triliun pada 2024 menjadi Rp10,58 triliun pada 2025 dan Rp11,81 triliun pada 2026.
Pertumbuhan tersebut tercermin pada estimasi laba per sahamyang diperkirakan meningkat dari 984,19 pada 2024 menjadi 1.194,77 pada 2025 dan kembali naik ke 1.342,64 pada 2026.
Artinya, secara fundamental ruang ekspansi masih terbuka, terutama jika konsumsi domestik benar-benar terdorong selama periode hari besar keagamaan.
Di sisi profitabilitas operasional, konsensus analis memperkirakan laba usaha berada di kisaran Rp23,08 triliun pada 2024, sedikit turun ke Rp22,96 triliun pada 2025, sebelum kembali meningkat menjadi Rp24,17 triliun pada 2026.
Pola ini menunjukkan adanya fase konsolidasi margin jangka pendek sebelum kembali menguat.
Valuasi saham INDF juga dinilai masih berada di area yang relatif murah.
Riset Stockbit Sekuritas mencatat forward price to earningsberada di level 5,0 kali atau sekitar 56 persen lebih rendah dibandingkan ICBP, dengan price to book valuedi kisaran 0,9 kali.
Selain itu, saham ini menawarkan imbal hasil dividen di kisaran 5–6 persen per tahun, menjadikannya tetap menarik bagi investor yang mencari kombinasi antara pertumbuhan dan pendapatan pasif.
Dari sisi kinerja laba berjalan, perseroan membukukan laba bersih Rp2,72 triliun pada kuartal I 2025, meningkat menjadi Rp3,11 triliun pada kuartal II, dan Rp2,04 triliun pada kuartal III.
Secara tahunan, laba bersih 2025 tercatat Rp10,50 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp8,64 triliun pada 2024 dan Rp8,14 triliun pada 2023.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp59,04 triliun dan jumlah saham beredar 8,78 miliar lembar, porsi free float INDF sudah mencapai 48,24 persen.
Struktur ini membuat saham relatif likuid dan lebih mudah diakses investor institusi dibandingkan banyak emiten lain yang masih memiliki free float terbatas.
Meski demikian, ruang kenaikan harga masih cukup lebar. Dari 23 analis yang memantau saham ini, seluruhnya memberikan rekomendasi beli dengan target harga rata-rata Rp9.268.
Angka tersebut berada jauh di atas harga saat ini di Rp6.725, dengan estimasi tertinggi Rp11.500 dan terendah Rp7.750.
Dari sisi teknikal, pergerakan saham INDF dalam perdagangan intraday masih menunjukkan fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Indikator MACD juga masih bergerak di area negatif, meski histogram mulai menipis.
Kondisi ini mencerminkan momentum pelemahan yang mulai berkurang, namun belum cukup kuat untuk memberikan sinyal pembalikan arah.
Sementara itu, pergerakan harga yang cenderung sempit di dalam rentang Bollinger Band mengindikasikan pelaku pasar masih menunggu katalis baru.
Secara teknikal, level 6.700 menjadi penopang terdekat yang menjaga saham tetap bergerak sideways. Adapun area 6.750–6.780 menjadi resistance jangka sangat pendek yang perlu ditembus untuk membuka ruang penguatan lanjutan. (Nur Nadiyah)
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply