Kerja sama Pindad dan Ashok Leyland ini, difokuskan pada pengembangan dan manufaktur bersama bus listrik atau Electric Vehicleserta kendaraan pertahanan.
Kolaborasi ini dijalin seiring percepatan transisi energi dan modernisasi alat pertahanan Indonesia.
Kolaborasi ini bakal menggabungkan keahlian global Ashok Leyland, bagian dari holding Hinduja Group, dalam platform kendaraan listrik komersial dan solusi mobilitas pertahanan dengan kapabilitas rekayasa, basis manufaktur, serta pengalaman panjang Pindad dalam ekosistem pertahanan nasional.
Fokus utama kerja sama juga meliputi pengembangan bersama, produksi lokal, dan penyesuaian produk agar sesuai dengan kondisi geografis, infrastruktur, serta kebutuhan operasional Indonesia.
Artinya kolaborasi Pindad dan Ashok Leyland menyasar sektor transportasi publik maupun pertahanan.
Amandeep Singh selaku Presiden Operasi Internasional, Pertahanan, LCV & PSB Ashok Leyland menyatakan, pihaknya memiliki rekam jejak panjang dalam menyediakan solusi mobilitas komersial dan pertahanan yang andal di berbagai belahan dunia.
Sebab anak perusahaan Ashok Leyland yakni Switch Mobility, kini telah mengembangkan beragam bus listrik dengan daya saing global.
“Kemitraan dengan Pindad memungkinkan kami untuk bersama-sama mengembangkan produk yang secara khusus sesuai dengan kondisi medan, infrastruktur, dan kebutuhan operasional Indonesia,” ujarnya lewat keterangan resmi, Kamis, 5 Februari 2026.
Lebih lanjut, kerja sama tersebut juga diklaim sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong adopsi kendaraan listrik, efisiensi energi, serta penguatan industri pertahanan dalam negeri melalui peningkatan kandungan lokal dan alih teknologi.
Dari sisi industri, masuknya Ashok Leyland melalui kolaborasi dengan Pindad berpotensi memperkuat rantai pasok kendaraan listrik nasional, khususnya pada segmen bus listrik yang dapat menjadi tulang punggung transportasi publik perkotaan di masa depan.
Produksi lokal kendaraan listrik maupun pertahanan, seharusnya bakal membuka peluang peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri, penciptaan lapangan kerja, serta transfer teknologi EV.
Dari sisi pertahanan, pengembangan kendaraan taktis berbasis kebutuhan domestik berpotensi memperkuat kemandirian industri sekaligus memperluas basis manufaktur otomotif berteknologi tinggi di Indonesia.


Leave a Reply