Dalam perspektif historis jangka menengah, khususnya 18 bulan terakhir, pergerakan tersebut masih tergolong moderat karena terjadi pada level harga yang sudah sangat tinggi.
Pola yang terbentuk menggambarkan fase konsolidasi sehat di area elevated price, bukan masuk pada fase distribusi agresif.
Pada awal pekan, likuiditas pasar relatif tipis karena libur President’s Day di Amerika Serikat. Rendahnya partisipasi pelaku pasar dari desk perdagangan AS menyebabkan volume transaksi turun signifikan.
Dalam kondisi likuiditas tipis, tekanan jual yang melanjutkan tren likuidasi pekan sebelumnya memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga. Emas spot turun bertahap hingga menyentuh titik terendah mingguan di sekitar USD4.860 per ons.
Pergerakan ini mencerminkan dominasi sisi penjual dalam pasar yang tidak dalam kondisi likuid penuh.
Namun tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Kembalinya partisipasi desk AS pada Selasa, 17 Februari 2026, memicu arus beli baru.
Harga emas kembali menguat tajam dan menembus kembali level psikologis USD5.000 per ons.
Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar terhadap rilis data makroekonomi dan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Selain itu, faktor lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global turut mendukung permintaan emas.
Setelah reli tersebut, harga hanya terkoreksi tipis dalam dua sesi berikutnya dan tetap bertahan di sekitar area USD5.000.
Rilis Rapat FOMC
Rilis notulen rapat FOMC pada Rabu, 18 Februari 2026, menunjukkan adanya perbedaan pandangan di dalam komite kebijakan moneter.
Sebagian anggota cenderung membuka ruang pemangkasan suku bunga lebih cepat jika sinyal perlambatan inflasi berlanjut.
Sementara, sebagian lainnya mempertahankan proyeksi penurunan suku bunga di akhir tahun setelah serangkaian data inflasi yang lebih ringan. Ketidakpastian arah kebijakan ini juga tidak memicu lonjakan tajam pada emas.
Hharga tetap terjaga di kisaran USD5.000. Kali ini, pasar tetap memposisikan emas sebagai aset yang relevan dalam kondisi kebijakan yang belum sepenuhnya pasti.
Sehari kemudian, perhatian pasar beralih ke dinamika geopolitik setelah muncul laporan mengenai peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Sentimen risk-off menguat di pasar komoditas.
Harga minyak naik signifikan, dan emas ikut terdorong lebih tinggi sebagai aset safe haven. Dalam sesi perdagangan tersebut, emas kembali menembus USD5.000 dan melanjutkan penguatan hingga mendekati USD5.100 per ons menjelang akhir pekan.
Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap potensi eskalasi ketegangan regional.
Data Pertumbuhan Ekonomi AS
Dari sisi makroekonomi, data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat kuartal IV yang menunjukkan perlambatan serta putusan Mahkamah Agung yang membatalkan strategi tarif Trump menambah dimensi baru terhadap prospek kebijakan moneter dan fiskal.
Kedua faktor tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap pernyataan publik pejabat Federal Reserve pada pekan berikutnya, terutama dalam membaca implikasi terhadap arah suku bunga.
Secara keseluruhan, struktur perdagangan emas global dalam periode ini memperlihatkan tiga fase utama: tekanan jual awal akibat likuiditas tipis dan kelanjutan likuidasi, reli teknikal dan fundamental pasca kembalinya partisipasi penuh pasar, serta penguatan lanjutan yang didorong sentimen geopolitik.
Harga tetap bertahan di atas area psikologis USD5.000 dan mendekati USD5.100 menjelang penutupan mingguan. Artinya, permintaan lindung nilai masih aktif dalam konteks kebijakan moneter yang belum pasti dan meningkatnya risiko global.


Leave a Reply