​Laporan terbaru dari Chainalysis mengungkap fakta kelam mengenai lonjakan transaksi kripto yang terkait dengan jaringan perdagangan manusia sebesar 85% sepanjang tahun 2025.

Aktivitas ilegal yang mencatatkan volume hingga ratusan juta dolar ini berpusat di Asia Tenggara, khususnya Kamboja.

Wilayah tersebut kini menjadi titik pusat ekosistem kriminal yang menggabungkan pusat penipuan, judi ilegal, dan jaringan pencucian uang profesional yang beroperasi secara terorganisir melalui platform Telegram.

​Dalam laporannya, Chainalysis menyoroti bahwa jaringan perdagangan manusia di Kamboja kini menggunakan model bisnis yang sangat canggih.

Hampir separuh dari transaksi layanan ilegal mereka bernilai di atas 10.000 USD, dengan penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran utama karena stabilitas harga dan kemudahan konversi ke mata uang lokal.

Kripto juga digunakan oleh agen penempatan tenaga kerja untuk memfasilitasi penculikan orang yang kemudian dipaksa bekerja di kamp penipuan siber dengan nilai rekrutmen berkisar antara 1.000 USD hingga 10.000 USD per orang.

​Meskipun penyalahgunaan aset digital ini meningkat tajam, Chainalysis menegaskan bahwa transparansi blockchain justru menjadi senjata utama bagi penegak hukum.

Berbeda dengan transaksi tunai yang sulit dilacak, aliran dana kripto memberikan visibilitas yang memungkinkan otoritas global untuk mendeteksi dan memutus rantai pendanaan sindikat kriminal ini.

Laporan ini menjadi peringatan keras bagi pelaku market dan penyedia layanan wallet untuk memperketat kepatuhan guna mencegah ekosistem kripto terus dieksploitasi oleh jaringan perbudakan modern.

Baca juga : Raja Scam Kamboja Ditangkap: Infrastruktur Kriminal Kripto Asia Tenggara Runtuh

Baca juga:  MetaMask Gemparkan Dunia Kripto! mUSD, Stablecoin Terbaru Hadir di Blockchain Linea

Leave a Reply

investografi