...

Robinson dari University of Chicago, IL, USA.

Ketiganya berpandangan bahwa perbedaan antara negara kaya dengan negara miskin dapat diamati pada perbedaan institusi.

Dalam hal ini, sistem ekonomi, politik dan hukum di negara miskin dan pendapatan menengah bersifat ekstraktif yang memberikan priviledge kepada sekelompok kecil elit.

Sementara, negara kaya memiliki institusi yang inklusif, yaitu institusi yang memberikan manfaat kepada semua kelompok masyarakat.

Perbedaan institusi antara negara kaya dengan negara miskin menyebabkan transformasi struktural di negara miskin, yaitu dari developing country menuju negara kayaberjalan lambat dan bahkan stagnan.

Perekonomian negara miskin dan negara berpendapatan menengah, seperti Indonesia diwarnai oleh ketimpangan antar wilayahdan antar pendapatan per kapita yang dapat memicu keresahan sosial, mengarah ke situasi chaos.

Institusi Ekstraktif

Pemenang Nobel ekonomi 2024 menunjukkan bahwa negara-negara yang sama secara geografis, iklim, etnis, sejarah, budaya, makanan, dan bahkan seni musik tetapi memiliki tingkat kesejahteraan berbeda.

Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan sistem politik, ekonomi dan hukum antar negara.

Sebagai contoh, Korea Selatandan Korea Utarayang memiliki kesamaan geografis, iklim, etnis, bahasa, makanan dan musik. Namun, keduanya memiliki tingkat kesejahteraan berbeda.

Dimana, Korsel tergabung dalam kelompok negara maju dan Korut termasuk dalam kategori negara miskin.

Kesenjangan kesejahteraan antara Korsel dengan Korut disebabkan oleh perbedaan institusi, dimana institusi Korsel bersifat inklusif dan sebaliknya, institusi Korut bersifat ekstraktif, hanya menguntungkan sekelompok kecil elit.

Hal ini sejalan dengan Eric Werker, Associate Professor dari Harvard Business Schoolyang menyatakan bahwa dalam 50 tahun, sejak tahun 1960 – 2010, terdapat 33 negara yang mengalami pertumbuhan lebih besar 10%.

Namun, tidak semua dari negara tersebut yang akhirnya mampu bertransformasi menjadi negara maju.

Hanya China, Jepang, Singapura, dan Hong Kong yang perekonomiannya sukses bertransformasi menjadi developed countries. Sementara Lebanon dan Suriah stagnan sebagai negara berpendapatan menengah dan bahkan menjadi negara miskin.

Pengalaman kedua kelompk negara di atas menunjukkan bahwa developed countriesmemiliki institusi yang inklusif.

Sebaliknya, negara yang terjebak sebagai negara miskin memiliki institusi yang ekstraktif. Institusi ekstraktif ditunjukkan oleh lemahnya rule of law.

Baca juga:  INCO Terjebak di Zona Tunggu: Momentum Emas yang Hilang Begitu Saja!

Hal ini tercermin pada Corruption Perception Indexyang buruk. Dimana, dari 33 negara yang tumbuh lebih dari 10% dalam 50 tahun terakhir hanya Jepang, Singapura dan Hong Kong yang memiliki peringkat CPI terbaik. Sementara lainnya memiliki peringkat CPI yang buruk.

Sistem ekonomi ekstraktif juga berdampak pada gini ratio tinggi, mencerminkan tingginya ketimpangan antar pendapatan per kapita.

Dimana, negara-negara seperti Angola, Bosnia dan Herzegofina, Brazil, Kongo, dan Rawanda memiliki gini ratio sekitar 0,50 yang mencerminkan ketimpangan yang tinggi.

Demikian juga Indonesia, masalah utamanya belum bergeser dari isu ketimpangan, dimana pada tahun 1990, terdapat sekitar 20 persen penduduk terkaya Indonesiamenguasai 39 persen total pengeluaran seluruh penduduk.

Pada tahun 2010, naik menjadi 44 persen atau sebesar 44 persen total pengeluaran berasal dari 20 persen orang terkaya di Indonesia

Tidak hanya itu, terdapat jurang ketimpangan yang semakin lebar antara Kawasan Timur Indonesiadengan Kawasan Barat Indonesia, khususnya Jawa dengan luar Jawa.

Kontribusi KBI yang terdiri dari Sumatera dan Jawa dalam Gross Domestic Productharga berlaku mencapai sekitar 79,14 persen tahun 2024. Sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 yang mencapai sekitar 80,52 persen.

Sementara, daerah-daerah di KTI yang meliputi dua per tiga wilayah Indonesia hanya berkontribusi sekitar 20,85 persen tahun 2024. Angka ini sedikit mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 sebesar 19,46 persen.

Distribusi kue ekonomi nasional antar pulau didominasi oleh Pulau Jawa dengan kontribusi sekitar 57,02 persen tahun 2016.

Hanya sedikit mengalami penurunan dibandingkan kontribusinya terhadap GDP harga berlaku tahun 2016 sebesar 58,49 persen.

Kontribusi Pulau Sumatera juga relatif besar, yaitu sekitar 22,03 persen tahun 2016 dan meningkat menjadi 22,12 persen tahun 2024.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi Pulau Kalimantan yang merupakan daerah perkebunan dan pertambangan yang hanya sekitar 7,88 persen tahun 2016 dan 8,24 persen tahun 2024.

Kontribusi Pulau Sulawesi, Maluku, Papua, Bali dan Nusa Tenggara relatif kecil. Dimana, Pulau Sulawesi berkontribusi hanya sekitar 6,04 persen tahun 2016 dan meningkat menjadi 7,12 persen tahun 2024.

Baca juga:  RDTX 2025: Bocoran Dividen Interim, Strategi Jitu, dan Proyeksi Kinerja

Selanjutnya, Bali dan Nusa Tenggara menyumbang terhadap perekonomian nasional sebesar 3,12 persen tahun 2016 dan bahkan mengalami penurunan pada tahun 2024 menjadi hanya sebesar 2,81 persen.

Hal yang sama terjadi di Papua dan kepulauan Maluku yang berkontribusi sangat kecil terhadap GDP nasional, yaitu hanya 2,42 persen tahun 2016 dan meningkat menjadi 2,69 persen tahun 2024.

Padahal, kedua kawasan ini memiliki wilayah geografis sangat luas dengan kekayaan Sumber Daya Alamyang melimpah.

Demikian juga gini ratio nasional yang tinggi berpotensi memicu keresahan sosial.

Dimana, gini ratio tertinggi terdapat di Pulau Jawa, yaitu Jakarta yang pada tahun 2002 memiliki gini ratio 0,380 meningkat menjadi 0,441 semester satu tahun 2025.

Ketimpangan antar pendapatan per kapita di Jakarta pada awal 2000-an masuk kategori rendah, setelah 25 tahun reformasi masuk dalam kategori sedang.

Hal yang sama terjadi di Jawa Baratmengalami peningkatan gini ratio, yaitu dari 0,301 tahun 2002 meningkat menjadi 0,416 semester satu tahun 2025.

Ketimpangan pendapatan di Jabar juga semakin meningkat dari kategori rendah, lebih kecil 0,4 menjadi kategori tinggi lebih besar dari 0,40.

Kecenderungan yang sama terjadi di Jawa Timur, gini ratio mengalami peningkatan dari 0,322 tahun 2002 meningkat menjadi 0,369 semester satu tahun 2025.

Ketimpangan pendapatan per kapita di Jatim, meskipun tetap termasuk dalam kategori rendah tetapi mengalami peningkatan, mendekati kategori sedang.

Sementara beberapa daerah di luar Jawa yang memiliki gini ratio paling rendah pada semester pertama tahun 2025 adalah Bangka Belitungsebesar 0,222, Kaltara 0,261 dan Aceh sekitar 0,282.

Tiga daerah di atas merupakan daerah dengan intensitas pembangunan relatif rendah tetapi memiliki ketimpangan per kapita sangat rendah.

Sebaliknya, daerah-daerah di Pulau Jawa dengan intensitas pembangunan sangat tinggi dan menjadi pusat kegiatan ekonomi nasional memiliki gini ratio tinggi, yaitu sekitar 0,35 – 0,45 pada semester pertama tahun 2025.

Perubahan Radikal

Potret di atas memberikan signal kepada pemerintah bahwa pembangunan nasional yang dijalankan dalam kurang lebih delapan dekade sejak Indonesia merdeka, menghasilkan kemajuan tetapi sekaligus ketimpangan antar wilayah dan antar pendapatan per kapita yang semakin tinggi.

Baca juga:  Geger! Chery X Meluncur di GJAW 2025, Ini 5 Fitur Canggih yang Bikin Auto Tergoda!

Singkatnya, demonstrasi anarkis dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa daerah dengan gejolak palig keras hingga melakukan penjarahan dan pengrusakan fasilitas publik adalah daerah dengan gini ratio tertinggi, seperti DKI Jakarta, Jabar, Jatim, Sulsel, Sumut dan lainnya.

Sementara, daerah dengan gini ratio paling rendah, seperti Babel, Kaltara, dan Aceh tidak mengalami penjarahan masif.

Akhirnya, jalan keluar yang dapat dilakukan oleh  presiden Prabowo adalah mengubah haluan ekonomi nasional secara radikal dari yang berpusat di Pulau Jawamenjadi tersebar di seluruh Indonesia

Program pembangunan presiden Prabowo yang disebut Prabowonomics diharapkan dapat menyebar pusat-pusat aktifitas ekonomi baruke semua kota besar di Indonesia.

Pusat aglomerasi ekonomi yang baru akan memberikan multiplier effect kepada daerah di sekitarnya.

Strategi yang sama juga dilakukan oleh pemerintah China dengan membangun puluhan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Pusat aglomerasi ekonomi yang tersebar di seluruh propinsi di China menjadi basis pertumbuhan ekonomi China double digit selama beberapa dekade.

Sementara untuk mengatasi ketimpangan antar pendapatan per kapita dalam jangka menengah dan panjang, fokusnya adalah pengembangan Sumber Daya ManusiaHal ini sejalan dengan langkah presiden Prabowo melalui program perbaikan gizi terhadap 82,9 juta penerima manfaat yang terdiri dari siswa, santri, balita dan ibu hamil.

Perubahan radikal dan revolusioner yang dapat dilakukan oleh presiden Prabowo adalah mewajibkan pelaku usaha menengah dan besar melaksanakan kemitraan usahadengan pelaku usaha kecil, mikro dan ultra mikro.

Hal tersebut akan menciptakan model pembangunan gotong royong sesuai amanah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Merujuk pada Acemoglu, Johnson, dan Robinson, peraih hadiah nobel ekonomi tahun 2024, Prabowonomics akan memberikan benefit jangka panjang jika ditopang oleh reformasi hukum dan politik yang radikal.

Mewujudkan institusi, dalam hal ini sistem politik dan hukum yang inklusif sehingga memberikan manfaat maksimal kepada semua anak bangsa.

Ditulis oleh:

Muhammad Syarkawi Rauf (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unhas)

Leave a Reply

investografi