Menurutnya, momen puasa dan Lebaran tidak otomatis menjadi pendorong utama pertumbuhan pada awal tahun ini.
Faisal menjelaskan, proyeksi tersebut sejalan dengan hasil KOR Economic Outlook 2026 yang digelar pada November lalu, yang memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,1 persen.
Ia menilai, meski kuartal I identik dengan peningkatan konsumsi selama puasa dan Lebaran, dampaknya tidak terlalu besar jika dibandingkan secara tahunan.
“Kalau kita bandingkan secara year-on-year, kuartal I 2026 dibandingkan kuartal I 2025, di tahun sebelumnya juga ada puasa dan Lebaran. Jadi tidak ada low base effect.
Puasa dan Lebaran bukan pendorong utama pertumbuhan tahunan,” jelasnya.
Menurut Faisal, dampak puasa dan Lebaran lebih terasa jika dibandingkan secara quarter-to-quarter dengan kuartal IV tahun sebelumnya, bukan secara tahunan.
“Kalau dibandingkan dengan kuartal IV 2025 memang ada kenaikan, tapi yang kita bahas ini kan year-on-year, bukan quarter-to-quarter,” katanya.
Lebih lanjut, Faisal mengungkapkan ada sejumlah tantangan yang menahan laju ekonomi agar tidak menembus 5 persen. Salah satunya adalah dampak bencana alam yang terjadi di akhir 2025 di beberapa wilayah, terutama di Sumatra.
“Bencana di Sumatra cukup luas. Kontribusinya terhadap ekonomi bisa sampai sekitar 5 persen.
Aktivitas ekonomi di daerah terdampak pada kuartal I ini belum pulih, infrastrukturnya rusak dan banyak sektor belum bisa berjalan normal,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Faisal, membuat pergerakan ekonomi daerah masih tertahan sehingga mengoreksi kinerja nasional jika dibandingkan dengan kuartal I 2025 saat belum terjadi bencana.
“Kalau dibandingkan secara year-on-year dengan kuartal I 2025 ketika belum ada bencana, jelas berbeda. Itu yang membuat pertumbuhan terkoreksi, sehingga kami kisaran di 4,9 sampai 5 persen,” pungkasnya.


Leave a Reply