Pemerintah menilai momentum pemulihan ekonomi semakin kuat dengan ditopang konsumsi domestik, investasi, serta reformasi struktural berkelanjutan.
Airlangga menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara year-on-year mencapai 5,11 persen.
Kinerja tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,98 persen seiring stabilitas harga, mobilitas masyarakat saat libur Natal dan Tahun Baru, serta aktivitas ekonomi yang meningkat.
“Untuk pertama kalinya kuartal IV dan kuartal I berdekatan dengan hari besar keagamaan. Di kuartal I ada Idulfitri dan pengalaman kita menunjukkan momentum Lebaran selalu mendorong pertumbuhan tertinggi,” ujarnya.
Selain konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga kemasyarakatan tumbuh 5,13 persen didorong peningkatan kegiatan sosial dan respons kebijakan bencana.
Sementara itu, investasi tumbuh 5,09 persen dan belanja modal pemerintah melonjak 44,2 persen, berperan menjaga permintaan domestik sebagai shock absorber terhadap perlambatan global.
Dari sisi eksternal, ekspor tumbuh 7,03 persen seiring peningkatan volume dan nilai ekspor serta kenaikan kunjungan wisatawan hingga 10 persen pada akhir 2025.
Sektor transportasi, pergudangan, akomodasi, dan makanan minuman bahkan tumbuh di atas 7 persen dengan total perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar sepanjang 2025.
Di sektor riil, pertanian tumbuh 5,03 persen didukung produksi pangan dan stabilitas harga, sedangkan industri pengolahan meningkat 5,3 persen berkat permintaan domestik, ekspor, dan hilirisasi.
Kinerja ekonomi tersebut turut berdampak pada indikator sosial.
Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, rasio gini membaik ke 0,36, dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,74 persen dengan tambahan serapan tenaga kerja 2,71 juta orang.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen dengan potensi hingga 5,6 persen.
Sektor prioritas meliputi pertanian, manufaktur, digital, dan energi, termasuk implementasi program unggulan Presiden Prabowo Subianto seperti makan bergizi gratis, koperasi desa Merah Putih, dan pembangunan tiga juta rumah.
Airlangga juga menyoroti peran sektor keuangan, khususnya pasar modal, yang kembali stabil dan positif.
Reformasi diarahkan pada peningkatan porsi saham beredar di publik dari 7,5 persen menjadi 15 persen, transparansi kepemilikan, serta perluasan investasi dana pensiun dan asuransi hingga 20 persen pada saham berfundamental kuat.
Di tingkat global, diplomasi ekonomi diperkuat melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional, termasuk EU-CEPA yang diproyeksikan membuka akses pasar hingga 14,7 persen PDB dunia serta kerja sama dengan Kanada, Eurasia, Inggris, dan Amerika Serikat.
Untuk mencapai target pertumbuhan jangka panjang hingga 8 persen, pemerintah akan terus mendorong reformasi struktural melalui penyederhanaan birokrasi, kepastian hukum, serta sinergi belanja pemerintah dan investasi swasta.
“Mesin produksi, kebijakan yang terprediksi, dan sistem keuangan yang lebih dalam harus bergerak harmonis. Dengan fondasi kuat, Indonesia diharapkan bisa lepas landas dalam dua tahun ke depan,” kata Airlangga.


Leave a Reply