Pergerakannya memperlihatkan dinamika yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar respons klasik terhadap sentiment risk-off.

Di awal pekan, harga emas sempat kembali bertahan di atas level psikologis USD5.000 per ons. Penguatan ini didorong oleh data Retail Sales Januari yang mencatat pertumbuhan 0 persen secara bulanan, melemah dari ekspektasi +0,4 persen.

Data ini menjadi sinyal perlambatan konsumsi domestik AS, terutama setelah data payroll swasta menunjukkan hasil yang mengecewakan.

Sektor tenaga kerja swasta ikut melemah dan memperkuat kekhawatiran bahwa momentum ekonomi mulai kehilangan tenaga.

Kombinasi keduanya, secara teori, mendukung emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian.

Namun, pasar yang bergerak linear, di mana saham teknologi dan software memicu gelombang aksi jual agresif di Wall Street, membuat emas justru mengalami fase konsolidasi ketat di kisaran USD5.010 hingga USD5.080 per ons hingga pertengahan pekan.

Sejurus kemudian, laporan Non-Farm Payrolls Januari mencatatkan kenaikan 130 ribu pekerjaan, melonjak hampir dua kali lipat dari ekspektasi 79 ribu, dan menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak awal 2024.

Data ini menahan kekhawatiran resesi, yang artinya juga menahan reli emas. Pasar melihat ekonomi belum sepenuhnya melemah, sehingga dorongan untuk memborong emas tidak terlalu mendesak.

Tetapi, pada Kamis pagi waktu AS, terjadi gelombang aksi jual di pasar ekuitas yang mencapai fase likuidasi lebih dalam, terutama pada saham-saham berisiko tinggi.

Dalam kondisi ini, emas tidak lagi diperlakukan sebagai aset perlindungan, melainkan sebagai sumber likuiditas.

Investor yang mengalami tekanan portfolio dan potensi margin call, terpaksa melepas emas mereka untuk menutup kerugian di aset lain. Akibatnya, harga spot emas anjlok hingga USD4.915 per ons, harga terendah di pekan ini.

Baca juga:  Tips Sukses Berinvestasi di Masa Krisis Ekonomi

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam fase risk-off ekstrem, emas dapat ikut terseret karena kebutuhan kas mendesak.

Terlebih, valuasi emas saat ini sudah mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, dan mencatat kenaikan lebih dari 50 persen dalam setahun terakhir.

Posisi long yang padat membuat logam mulia rentan terhadap aksi ambil untung dan likuidasi paksa Ketika volatilitas meningkat.

Emas Kembali Bertahan

Anjloknya harga emas akibat gelombang aksi jual di pasar ekuitas ini tidak berlangsung lama. Memasuki sesi Asia dan menjelang rilis data inflasi utama, harganya bergerak pulih dan kembali menembus USD5.000.

Fokus pasar beralih ke laporan CPI Januari, yang menjadi indikator kunci arah kebijakan moneter the Fed. Dalam data itu, inflasi terlihat turun sesuai ekspektasi, yaitu -0,1 persen secara bulanan.

Sementara, inflasi utama melandai lebih dalam dari perkiraan, menjadi 2,4 persen.

Angka-angka itu memperkuat ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga akan terjadi lebih cepat dari perkiraan. Nah, bagi emas, prospek ini berarti biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih kecil.

Makanya, tidak heran jika kemudian harga emas spot melonjak lebih dari 2 persen secara intraday. Ini pula yang membawa emas bergerak stabil di sekitar USD5.025 menjelang akhir pekan.

Secara teknikal, pemulihan cepat dari area USD4.915 menunjukkan bahwa level di bawah USD5.000 masih menarik minat beli. Namun volatilitas pekan ini juga menegaskan bahwa reli emas tidak lagi berjalan satu arah.

Pergerakan kini sangat sensitif terhadap dua variabel utama, yakni tekanan likuiditas di pasar saham dan ekspektasi arah kebijakan moneter.

Dengan agenda makro pekan depan relatif lebih ringan, perhatian pasar akan tertuju pada risalah rapat FOMC Januari yang akan dirilis Rabu mendatang.

Baca juga:  Pertamina Pacu Diplomasi Budaya dan Ekonomi, Cetak SDM Unggul di Brisbane

Dokumen tersebut berpotensi memberikan petunjuk lebih jelas mengenai toleransi The Fed terhadap tren inflasi yang mulai melunak serta timing pemangkasan suku bunga berikutnya.

Secara keseluruhan, emas menutup pekan dengan fondasi yang lebih stabil dibanding pertengahan minggu, meski tetap mencatat fluktuasi tajam.

Sentimen saat ini berada dalam keseimbangan antara kekhawatiran pertumbuhan ekonomi, kebutuhan likuiditas pasar, dan harapan pelonggaran moneter.

Struktur tersebut menciptakan lanskap perdagangan yang dinamis, di mana emas tetap menjadi barometer utama persepsi risiko global sekaligus cermin ekspektasi kebijakan bank sentral AS.

Leave a Reply

investografi