Program ini mencakup tiga tahapan sekaligus, yaitu Tahap I, Tahap II, dan Tahap III, dengan total hak opsi lebih dari 210 juta saham.

MESOP merupakan program pemberian hak opsi kepada manajemen dan karyawan untuk membeli saham perusahaan pada harga tertentu dalam periode yang telah ditetapkan.

Hak opsi ini bukan kewajiban, melainkan pilihan yang dapat dieksekusi apabila penerima opsi menilai harga pelaksanaanlebih menarik dibandingkan harga pasar.

Dalam praktiknya, MESOP menjadi instrumen insentif jangka menengah hingga panjang.

Program ini dirancang untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dan karyawan dengan pemegang saham, karena nilai manfaat yang diterima akan bergantung pada kinerja saham perusahaan di pasar.

Struktur Tahapan dan Harga Pelaksanaan

PGEO menetapkan harga pelaksanaan berbeda untuk setiap tahapan:

  • Tahap I: Rp648 per saham
  • Tahap II: Rp1.087 per saham
  • Tahap III: Rp838 per saham

Perbedaan harga ini mencerminkan waktu penerbitan hak opsi pada masing-masing fase sebelumnya.

Secara historis, exercise price dalam MESOP umumnya ditetapkan berdasarkan harga saham pada periode tertentu sebelum program disahkan, sehingga tiap batch memiliki harga yang berbeda.

Dengan total hak opsi lebih dari 210 juta saham, potensi saham baru yang dapat diterbitkan bergantung pada realisasi pelaksanaan opsi oleh penerima hak.

Jika seluruh hak dieksekusi, maka jumlah saham beredar akan bertambah sesuai total opsi yang dijalankan.

Potensi Dampak terhadap Struktur Saham

Pelaksanaan MESOP berpotensi meningkatkan jumlah saham beredar, apabila hak opsi direalisasikan menjadi saham baru. Besaran dampaknya akan ditentukan oleh:

  1. Jumlah opsi yang benar-benar dieksekusi.
  2. Total saham beredar sebelum dan sesudah pelaksanaan
  3. Distribusi eksekusi antar-tahap.

Sebaliknya, apabila sebagian hak tidak dieksekusi dalam periode ini, hak tersebut masih dapat dilaksanakan pada periode berikutnya, sebagaimana disampaikan Corporate Secretary PGEO Kitty Andhora.

Baca juga:  Bitcoin Merangkak Naik 0,02 Berkat Santa Rally, Simak Analisisnya!

Hal ini berarti potensi tambahan saham tidak terjadi sekaligus, melainkan dapat tersebar dalam beberapa periode pelaksanaan.

Secara nominal, nilai potensi dana yang masuk ke perusahaan akan bergantung pada kombinasi harga pelaksanaan dan jumlah saham yang dieksekusi di masing-masing tahap.

Dengan asumsi seluruh lebih dari 210 juta saham dieksekusi, maka dana yang diterima perusahaan berasal dari pembayaran harga pelaksanaan oleh penerima opsi.

Karena harga tiap tahap berbeda, struktur realisasi akan menentukan rata-rata harga pelaksanaan agregat. Semakin besar porsi eksekusi pada harga yang lebih tinggi, semakin besar dana yang masuk ke perusahaan.

Harga Saham Berpotensi Tertekan Lebih Dalam

Jika melihat dari pergerakan saham hingga akhir pekan kemarin, Jumat, 13 Februari 2026, PGEO ditutup di level Rp1.180, turun 25 poin atau terkoreksi 2,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp1.205.

Sepanjang sesi, saham ini dibuka di Rp1.185, sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi Rp1.205, lalu tertekan ke level terendah harian Rp1.170 sebelum akhirnya berakhir di zona merah.

Rentang pergerakan intraday sebesar 35 poin menunjukkan volatilitas moderat dengan tekanan jual dominan pada paruh kedua perdagangan.

Untuk nilai transaksi, tercatat sebesar Rp24,3 miliar dengan volume 204,39 ribu lot dan frekuensi 3.712 kali transaksi. Dari sisi arus dana, total transaksi beli tercatat Rp1,8 miliar, sedangkan transaksi jual mencapai Rp3,6 miliar. Catatan ini mencerminkan adanya tekanan distribusi bersih.

Struktur Orderbook Intraday

Tekanan distribusi semakin tampak dari struktur orderbook intraday PGEO. Di sisi permintaan, terdapat antrean beli besar, pada level Rp1.180, sebanyak 4.234 lot, dengan 63 kali frekuensi.

Level berikutnya terpantau di Rp1.175 sebanyak 6.010 lot dan Rp1.170 sebanyak 9.694 lot.

Baca juga:  Saham-saham Ini Siap Melaju, IHSG Diprediksi Tetap Perkasa di Awal Pekan!

Total antrean bid mencapai 144.490 lot dengan 1.303 frekuensi.

Sementara itu, sisi penawaran, tekanan terlihat tampak lebih besar dengan total 322.335 lot dan 2.582 frekuensi.

Lapisan offer tebal muncul di level Rp1.230 sebanyak 52.275 lot, disusul Rp1.210 sebanyak 13.536 lot dan Rp1.220 sebanyak 10.832 lot.

Ketimpangan antrean jual hampir dua kali lipat dibanding antrean beli ini memperlihatkan dominasi suplai pada penutupan sesi.

Rasio offer terhadap bid yang lebih tinggi menjadi indikator adanya tekanan di atas harga pasar saat ini.

Level Rp1.180 menjadi titik ekuilibrium intraday karena menjadi harga transaksi terakhir sekaligus area konsentrasi antrean beli terdekat.

Posisi dalam Tren Harian dan Pergerakan Harga Selanjutnya

Secara teknikal pada grafik harian, PGEO bergerak dalam fase konsolidasi setelah tren penurunan bertahap sejak kuartal ketiga 2025.

Harga saat ini berada di kisaran Rp1.100–Rp1.200 yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi area pergerakan dominan.

Volume perdagangan relatif stabil dibanding rata-rata 20 hari terakhir, tanpa lonjakan signifikan yang mengindikasikan perubahan struktur tren jangka menengah.

Pergerakan harga juga masih berada di bawah area puncak jangka menengah yang sebelumnya terbentuk di atas Rp1.400.

Area Rp1.170–Rp1.180 menjadi penopang terdekat berdasarkan low intraday dan konsentrasi bid. Sementara itu, rentang Rp1.200–Rp1.205 menjadi batas atas terdekat yang diuji pada sesi Jumat sebelum tekanan jual kembali muncul.

Dengan penutupan di dekat level terendah intraday dan struktur orderbook yang menunjukkan dominasi sisi penawaran, pergerakan awal sesi berikutnya berpotensi menguji kembali area Rp1.170 sebagai level terdekat yang telah disentuh pada Jumat.

Apabila tekanan jual berlanjut dan harga bergerak di bawah Rp1.170, maka rentang konsolidasi dapat bergeser ke area bawah kisaran pergerakan sebelumnya.

Baca juga:  Pertamina Pacu Diplomasi Budaya dan Ekonomi, Cetak SDM Unggul di Brisbane

Sebaliknya, jika harga bertahan di atas Rp1.170 dan mampu kembali melewati Rp1.200, maka area tersebut kembali menjadi batas resistensi intraday.

Dengan periode pelaksanaan MESOP yang akan dimulai pada 24 Februari 2026, pergerakan saham PGEO dalam waktu dekat juga akan tercermin pada respons pasar terhadap potensi perubahan struktur saham beredar dan sentimen korporasi yang sedang berlangsung.

Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.

Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.

Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Leave a Reply

investografi