Arah ini ditempuh seiring keyakinan manajemen terhadap kenaikan kebutuhan energi, terutama dari pembangunan pusat data dan pembangkit listrik baru.
Direktur Utama Medco Hilmi Panigoro menggambarkan dorongan permintaan gas sebagai konsekuensi langsung dari agenda hilirisasi pemerintah dan pembangunan infrastruktur energi.
Ia menyebut seluruh proyek tersebut membutuhkan pasokan energi baru dalam jumlah besar.
“Kegiatan hilirisasi yang didorong pemerintah, pembangunan banyak data center, pembangkit listrik baru, semuanya membutuhkan gas baru,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa, 17 Februari 2026.
Pandangan itu disampaikan di tengah tekanan isu perubahan iklim yang semakin kuat. Namun Hilmi menegaskan perusahaan masih melihat prospek cerah pada energi fosil, terutama di kawasan Asia.
“Terlepas dari tekanan besar perubahan iklim, kami tetap optimistis pada minyak dan gas, khususnya di wilayah ini. Permintaan semua energi berbasis fosil, baik batu bara, gas, maupun minyak, masih meningkat,” kata dia.
Langkah ekspansi tersebut sudah mulai terlihat sejak tahun lalu.
Medco mengumumkan akuisisi Blok Sakakemang dan South Sakakemang di Sumatra, hanya beberapa bulan setelah menaikkan kepemilikan di Blok Corridor menjadi 70 persen melalui transaksi senilai USD425 juta atau sekitar Rp7,16 triliun.
Perusahaan juga memperoleh kontrak bagi hasil Cendramas di Malaysia.
Dalam laporan kinerja terakhir, Medco mencatat pendapatan USD1,76 miliar atau sekitar Rp29,66 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Perusahaan ini memproduksi sekitar seperlima total gas nasional pada 2024 dan memiliki kepentingan di 26 aset migas di berbagai negara, termasuk Thailand, Oman, dan Tanzania.
Target berikutnya adalah produksi 170.000 barel setara minyak per hari pada 2026. Angka ini akan menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Hilmi menegaskan arah bisnisnya tidak akan stagnan. “Saya tidak berencana hanya berjalan di tempat. Saya ingin tumbuh.
Jadi arah pengembangan bisnis minyak dan gas kami adalah tetap agresif, mencari cadangan baru sebanyak mungkin, akuisisi, eksplorasi, pengembangan, EOR,” ujarnya, merujuk pada teknologi peningkatan perolehan migas dari reservoir yang mulai menurun.
Untuk pasar domestik, Medco mempercepat pengembangan Blok Sakakemang agar bisa memasok gas pertama pada akhir 2027.
Pasokan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Sumatra dan Jawa yang terus meningkat seiring pertumbuhan industri dan konsumsi listrik.
Di sisi lain, perusahaan menyatakan tetap melakukan inovasi untuk menekan emisi. Hilmi menyebut dalam lima tahun terakhir emisi karbon berhasil diturunkan 20 persen meski produksi meningkat dua kali lipat.
“Tantangan bagi perusahaan energi berbasis fosil seperti kami adalah memastikan upaya itu berjalan dan membantu mengatasi persoalan perubahan iklim,” kata dia.
Medco juga mulai menangkap peluang dari rencana pemerintah mewajibkan pencampuran bioetanol dalam bensin. Pekan lalu perusahaan menandatangani kerja sama dengan anak usaha Pertamina untuk mengaktifkan kembali pabrik etanol miliknya.
Agenda swasembada energi yang didorong Presiden Prabowo Subianto memasukkan pemanfaatan biofuel sebagai salah satu program utama.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memperkirakan Indonesia membutuhkan 1,4 juta kiloliter bioetanol untuk menjalankan kebijakan campuran 10 persen dalam bensin.
Dengan kombinasi ekspansi hulu migas, pengembangan gas domestik, serta masuk ke bioetanol, Medco menempatkan diri di jalur pertumbuhan baru di tengah perubahan lanskap energi global.
Pergerakan Saham dan Laba Menyusut
Di pasar modal, langkah agresif ekspansi Medco berjalan beriringan dengan pergerakan saham yang relatif stabil dalam jangka pendek.
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham MEDC bergerak di rentang Rp1.530 hingga Rp1.590 sebelum kembali ditutup di level Rp1.580.
Dalam sepekan sebelumnya, harga menguat Rp100 atau 6,76 persen, mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap arah bisnis perseroan.
Kapitalisasi pasar emiten minyak dan gas itu tercatat sekitar Rp39,7 triliun dengan porsi saham beredar 25,14 miliar lembar dan free float 23,72 persen.
Angka free float tersebut menempatkan MEDC dalam kelompok emiten energi dengan likuiditas menengah di Bursa Efek Indonesia.
Di sisi kinerja, laba bersih menunjukkan tren berbeda. Hingga kuartal III 2025, laba bersih tercatat Rp1,87 triliun secara annualised, lebih rendah dibandingkan Rp5,82 triliun pada 2024 dan Rp5,04 triliun pada 2023.
Secara kuartalan, laba kuartal I dan II 2025 masing-masing Rp288 miliar dan Rp323 miliar, sebelum naik menjadi Rp793 miliar pada kuartal III.
Meski laba menurun, perseroan tetap menjaga komitmen bagi pemegang saham melalui dividen. Dividend per share tercatat 53,45 dengan dividend yield sekitar 3,38 persen.
Rasio pembayaran dividen melonjak menjadi 71,71 persen, jauh di atas 17,59 persen pada tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan ruang yang lebih sempit antara laba dan pembagian dividen, di tengah kebutuhan belanja modal untuk ekspansi blok migas dan pengembangan proyek baru.
Di saat yang sama, penguatan harga saham dalam sepekan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap target produksi yang lebih tinggi serta tambahan cadangan baru yang tengah diburu perseroan.
Langkah ekspansi ke Asia Tenggara dan Timur Tengah, percepatan proyek gas Sakakemang, serta masuknya Medco ke rantai bisnis bioetanol menjadi faktor yang harus terus dipantau investor.
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply