Penguatan ini terjadi setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif global yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump.
Putusan dengan komposisi suara 6-3 tersebut secara langsung mengurangi ketidakpastian kebijakan perdagangan yang selama ini membebani pelaku pasar.
Apalagi, terhadap emiten-emiten yang memiliki eksposur rantai pasok global dan sensitif terhadap beban tarif impor.
Saham-saham berkapitalisasi besar memimpin kenaikan. Saham Alphabet naik sebesar 3,7 persen, Amazon 2,6 persen, dan Apple 1,5 persen.
Investor mulai kembali masuk ke saham-saham mega-cap yang selama ini menjadi penopang indeks.
Penguatan juga terjadi pada sektor communication services sebesar 2,65 persen dan consumer discretionary 1,27 persen. Hal ini mengindikasikan telah terjadi pergeseran sentimen ke arah risk-on, meski dalam skala terbatas.
Trump Umumkan Tarif Global Baru
Tapi, bukan Trump namanya kalau diam saja terhadap Keputusan MA. Ia langsung memberikan respons dengan mengumumkan tarif global baru sebesar 10 persen selama 150 hari berdasarkan Section 122 Trade Act 1974.
Beruntungnya, pasar menerima kebijakan baru tersebut lantaran tarif yang diumumkan tidak lebih agresif dari sebelumnya. Artinya, pelaku pasar menilai risiko kebijakan lanjutan masih terkendali untuk sementara waktu.
Meski demikian, potensi pengembalian dana tarif hingga lebih dari USD175 miliar, sebagaimana diperkirakan ekonom Penn-Wharton Budget Model, membuka dimensi fiskal dan hukum baru yang bisa berdampak pada anggaran pemerintah dan korporasi.
Seluruh Indeks Menguat
Secara indeks, penguatan S&P 500 sebesar 0,69 persen ke 6.909,51, Nasdaq naik 0,90 persen ke 22.886,07, dan Dow Jones menguat 0,47 persen ke 49.625,97 mencerminkan penguatan yang berbasis luas namun tetap condong ke saham teknologi dan pertumbuhan.
Sembilan dari sebelas sektor S&P 500 ditutup positif. Rasio saham naik terhadap turun sebesar dua banding satu di dalam S&P 500, menguatkan gambaran breadth yang konstruktif.
Meskipun begitu, data Nasdaq menunjukkan sebanyak 153 saham mencatatkan level terendah baru dibanding 81 saham yang mencetak tertinggi baru, Hal ini menandakan masih adanya tekanan selektif di sebagian segmen pasar.
Dalam perspektif mingguan, Nasdaq memimpin dengan kenaikan 1,51 persen, diikuti S&P 500 sebesar 1,08 persen dan Dow 0,25 persen.
Namun secara year-to-date, S&P 500 hanya naik hampir 1 persen pada 2026 dan tertinggal dari indeks saham global MSCI yang telah mencatatkan kenaikan lebih dari 3 persen.
Ini menunjukkan kinerja Wall Street relatif lebih moderat dibanding pasar global, sekaligus menandakan bahwa investor masih berhati-hati terhadap prospek domestik Amerika Serikat.
Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat
Data makroekonomi menambah kompleksitas sentimen. Pertumbuhan ekonomi kuartal keempat melambat lebih dalam dari perkiraan, sementara inflasi Desember justru meningkat.
Kombinasi perlambatan pertumbuhan dan tekanan harga ini menciptakan dilema kebijakan bagi Federal Reserve.
Probabilitas pemangkasan suku bunga pada pertemuan Juni yang berada sedikit di atas 50 persen menunjukkan pasar masih terbelah dalam membaca arah kebijakan moneter. Ketidakpastian ini membatasi ruang penguatan indeks secara agresif.
Laporan Keuangan Nvidia
Fokus berikutnya tertuju pada laporan keuangan Nvidia pekan depan.
Saham-saham berbasis kecerdasan buatan telah mengalami volatilitas dalam beberapa bulan terakhir akibat kekhawatiran valuasi tinggi dan belum kuatnya bukti bahwa belanja besar di sektor AI telah sepenuhnya diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba.
Dengan kapitalisasi dan bobot Nvidia yang signifikan dalam indeks, hasil kinerja kuartalan berpotensi menjadi katalis penting bagi arah Nasdaq dan S&P 500 dalam jangka pendek.
Di sisi lain, terdapat tekanan sektoral yang spesifik. Akamai Technologies anjlok 14 persen setelah proyeksi laba kuartal pertama berada di bawah ekspektasi analis.
Ini menunjukkan bahwa meski sentimen makro membaik, pasar tetap menghukum emiten yang gagal memenuhi panduan kinerja.
Volume perdagangan yang relatif ringan, sebesar 18,3 miliar saham dibanding rata-rata 20,3 miliar dalam 20 sesi terakhir, mengindikasikan bahwa reli terjadi tanpa partisipasi penuh pasar, sehingga belum mencerminkan arus masuk modal yang kuat.
Secara keseluruhan, perdagangan Wall Street kali ini mencerminkan fase transisi sentimen. Penghapusan tarif darurat mengurangi satu lapis ketidakpastian kebijakan dan mendorong saham-saham besar memimpin penguatan.
Namun, kombinasi perlambatan pertumbuhan, inflasi yang masih meningkat, ketidakpastian arah suku bunga, serta ujian terhadap reli AI membuat pasar tetap berada dalam keseimbangan yang rapuh.
Struktur pasar menunjukkan kecenderungan risk-on selektif, bukan reli luas berbasis fundamental makro yang solid.


Leave a Reply