Di saat sentimen domestik dan dinamika kebijakan global terus berubah, instrumen berbasis komoditas dinilai tetap memiliki daya tarik kuat untuk tahun 2026.
Pandangan itu disampaikan Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Faudzan Djamal, yang melihat emas dan logam dasar sebagai pilihan paling rasional bagi investor.
Menurut Faudzan, tren harga komoditas dunia saat ini masih bergerak dalam arah yang positif. Beberapa komoditas seperti nikel, tembaga, timah, aluminium, hingga emas menunjukkan prospek yang menjanjikan.
Kondisi pasokan global yang semakin ketat menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga tetap stabil. Selain itu, langkah China yang terus mengakumulasi stok logam dasar turut memberi dukungan bagi pasar.
“Supply base metal sekarang cukup terbatas. China juga terlihat melakukan penimbunan tembaga dan logam dasar karena dianggap krusial untuk manufaktur dan strategi ekonomi mereka,” kata Faudzan.
Di antara berbagai komoditas tersebut, tembaga mendapat perhatian khusus. Bagi dunia industri, tembaga memiliki posisi yang sangat strategis karena belum memiliki substitusi yang sepadan sebagai material konduktor.
Kebutuhan yang terus meningkat tidak diimbangi dengan tambahan pasokan signifikan, sehingga harga berpotensi terus terjaga.
Kondisi serupa juga terjadi pada timah. Pasokan timah global tengah menghadapi tekanan akibat gangguan produksi dari beberapa negara produsen utama seperti Myanmar dan Kongo.
Konflik geopolitik di wilayah tersebut membuat rantai pasok timah menjadi lebih rapuh dan sulit diprediksi.
Selain logam dasar, emas tetap berada di posisi terdepan dalam daftar pilihan investasi. Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda membuat permintaan terhadap logam mulia ini tetap tinggi.
Bank sentral di berbagai negara masih aktif menambah cadangan emas sebagai instrumen lindung nilai.
“Gold masih jadi pilihan paling rasional untuk jangka menengah satu sampai dua tahun. Central bank global masih net buyer, sehingga harga emas relatif sustain,” ujar Faudzan.
Di pasar saham domestik, ia mengakui bahwa tekanan sentimen sempat membayangi. Penyesuaian bobot indeks MSCI serta dinamika politik dalam negeri menjadi faktor yang menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan.
Namun menurutnya, koreksi yang terjadi justru membuka peluang bagi investor untuk masuk di harga yang lebih menarik.
“Jangan terlalu takut dengan shock dari MSCI. Banyak saham sekarang justru berada di level entry yang menarik karena harganya sudah terkoreksi,” jelasnya.
Faudzan mengingatkan dalam memilih saham, investor tidak sebaiknya hanya terpaku pada rasio valuasi konvensional seperti PER atau EV terhadap EBITDA.
Ia menyarankan penggunaan indikator PEG yang mengukur keseimbangan antara valuasi dengan potensi pertumbuhan laba. “PEG di bawah satu itu masih menarik.
Artinya valuasi saham sebanding dengan potensi pertumbuhan earnings-nya di 2026,” katanya.
Di sektor pertambangan, sejumlah emiten logam disebut masih layak masuk radar. Kinerja saham-saham tersebut sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas global.
Selama tren harga tetap positif, potensi pertumbuhan laba perusahaan pertambangan dinilai masih terbuka lebar. “Metal mining masih punya story.
Emas, timah, dan nikel secara earnings masih bisa justify kenaikan di 2026,” katanya.
Lebih jauh, Faudzan menekankan bahwa cara membaca pasar kini tidak lagi sesederhana melihat laporan keuangan semata.
Investor institusi mulai mempertimbangkan faktor yang lebih luas, termasuk arah kebijakan pemerintah dan peta politik global, sebagai bagian dari analisis investasi.
“Fund manager sekarang melihat politik sebagai shortcut untuk membaca hidden gem di pasar,” ujar Faudzan.
Di tengah kondisi pasar yang semakin dinamis, ia menilai strategi investasi harus disusun secara lebih komprehensif.
Analisis teknikal tetap dibutuhkan untuk menentukan waktu masuk dan keluar pasar, namun keputusan jangka panjang tetap harus berlandaskan pada fundamental perusahaan.
“Teknikal penting untuk timing, tapi untuk tahu saham itu murah atau mahal, investor tetap harus rajin melihat laporan keuangan dan growth ke depan,” katanya.
Dengan kombinasi pasokan komoditas yang ketat, permintaan global yang masih kuat, serta peran emas sebagai aset lindung nilai, sektor komoditas diproyeksikan tetap relevan pada 2026.
Bagi investor yang mencari peluang jangka menengah di tengah volatilitas pasar, komoditas masih menawarkan cerita yang menarik untuk dicermati lebih dalam. (Nur Nadiyah)
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply