Mengutip keterbukaan informasi, Jumat, 13 Februari 2026, disebutkan Noel telah melakukan penjualan saham sebanyak total 300 ribu lembar dalam dua transaksi terpisah pada 10 dan 11 Februari 2026.
Pada 10 Februari 2026, dilakukan penjualan tidak langsung sebanyak 200 ribu saham dengan harga Rp1.030 per saham. Sehari kemudian, Noel kembali melakukan penjualan tidak langsung sebanyak 100 ribu saham di harga Rp1.025 per saham.
Dengan transaksi tersebut, jumlah kepemilikan saham Noel turun dari sebelumnya 71.849.300 atau setara 1,53 persen hak suara, kini menjadi 71.549.300 saham atau 1,52 persen hak suara.
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa Noel merupakan pihak pengendali. Namun, pada baagian pernyataan pengendalian, dicantumkan bahwa tidak akan mempertahankan pengendalian.
DRMA menunjukkan dinamika yang relatif beragam sepanjang awal 2026.
Berdasarkan data performa harga terbaru, saham emiten otomotif tersebut tercatat mengalami tekanan dalam jangka pendek, namun tetap mempertahankan tren penguatan dalam rentang lebih panjang.
Secara year to date, saham DRMA masih membukukan koreksi sebesar 1,90 persen. Tekanan ini mencerminkan adanya fase konsolidasi harga setelah reli yang terjadi pada periode sebelumnya.
Dalam rentang satu bulan terakhir, pelemahan bahkan tercatat lebih dalam, yakni sebesar 2,36 persen.
Meski demikian, dalam waktu mingguan, saham DRMA mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan kenaikan sebesar 1,97 persen. Sementara dalam periode tiga bulan, saham ini masih mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 1,47 persen.
Momentum penguatan terlihat lebih solid dalam jangka menengah. Selama enam bulan terakhir, DRMA berhasil mencatatkan apresiasi harga sebesar 6,70 persen.
Bahkan dalam periode satu tahun, saham ini telah menguat hingga 11,89 persen.
Kinerja impresif juga tercermin dalam jangka panjang. Dalam tiga tahun terakhir, saham DRMA telah melonjak sekitar 73,95 persen.
DRMA Respons Tren Baterai Sodium dari China
DRMA) bicara kemungkinan Indonesia dalam pengguna aki berbasis ion natrium.
Aki ion natrium atau sodium ion dapat menjadi alternatif lebih terjangkau dalam komponen penyimpanan energi listrik, termasuk untuk sektor otomotif.
DRMA sendiri sudah memiliki produk aki dengan basis lithium yang memiliki sejumlah keunggulan dalam hal bobot yang lebih ringan, sampai masa pemakaian lebih panjang dibanding aki konvensional.
Head of Business Development PT Dharma Polimetal Tbk, Eko Maryanto mengatakan, teknologi aki atau baterai kendaraan selalu berkembang, termasuk hadirnya ion natrium seperti yang terjadi di China.
“Kemajuan teknologi untuk penyimpanan energi itu kan cepat.
Tapi, sebetulnya kalau kita melihat kondisi saat ini, secara energi penyimpanan itu paling efisien masih di LFP (Lithium Ferro Phosphate),” ujarnya kepada media di ajang IIMS 2026, belum lama ini.
Menurut Eko, baterai LFP seperti yang sudah dipasarkan DRMA, terhitung lebih fleksibel secara bobot dan volumenya ketimbang ion natrium saat ini. Sehingga, tidak memakan ruang besar untuk diletakkan di suatu kendaraan.
“Kalau kita bicara sodium itu kebetulan karena density energinya lebih rendah. Sehingga ukurannya bisa dua sampai tiga kali dari ukuran LFP,” sebutnya.
DRMA memutuskan akan mengikuti perkembangan basis baterai lithium maupun sodium. Sebab teknologi harus terus diikuti.
Selain itu, DRMA menilai di masa depan ion natrium akan digunakan untuk mobil listrik dengan harga terjangkau di pasaran.
“Kita ikut keduanya. Kemungkinan sodium akan digunakan oleh mobil-mobil murah.
Di sisi lain lithium juga ada pengembangannya yaitu LMPF yang ada mangan. Ini punya density lebih tinggi.
Hanya saja harganya masih tinggi untuk sekarang,” ungkap Eko.
Karena lebih relevan, DRMA akan lebih terfokus dengan produk baterai LFP. Sebab pasar otomotif secara massal masih lebih menyerap baterai lithium.
Hal ini bisa dilihat dari pasar mobil listrik dengan berbagai modelnya yang mengusung baterai jenis LFP, seperti halnya BYD, Wuling, Chery dan sebagainya.
“Untuk mobil produksi massal yang seperti sekarang, kemudian di mobil-mobil China itu semuanya menggunakan LFP. Bukan NMC (Nickel Manganese Cobalt).
Jadi kita akan fokusnya di LFP saja dan berikutnya sama ion natrium,” jelas Eko.
Namun, baterai ion natrium yang bahan bakunya diklaim lebih murah dan melimpah dibanding lithium, rupanya masih memiliki tantangan dalam proses produksinya.
Eko menyebut, baterai ion natrium tantangannya berada di bahan baku grafit sebagai material anoda. “Grafitnya kan masih mahal ya.
Kalau sodiumnya murah, air laut kan banyak. Tapi kan grafitnya untuk di anodanya kan masih perlu.
Jadi secara teknologi dia perlu waktu untuk mendapatkan skala ekonominya,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply