Setelah sebelumnya pasar terguncang kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan, hari ini beberapa indeks terlihat mulai bergerak naik.

S&P 500, salah satunya, bergerak naik 3,41 poin ke 6.836,17, setelah sebelumnya mencatatkan koreksi terdalam sejak libur Thanksgiving. Begitu pula dengan Dow Jones Industrial Average yang menguat 48,95 poin ke 49.500,93.

Hanya Nasdaq Composite yang terkoreksi cukup dalam, sebesar 50,48 poin ke 22.546,67. Di sini, tampak terjadi rotasi selektif di saham berbasis teknologi.

Pergerakan indeks kali ini dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan lebih baik dari ekspektasi. Inflasi tahunan turun menjadi 2,4 persen dari 2,7 persen pada Desember 2025.

Meskipun masih di atas target 2 persen Federal Reserve, namun penurunan ini mengurangi tekanan. Lebih penting lagi, inflasi inti turun ke level terendah dalam hampir 5 tahun.

Kondisi ini, bagi pasar obligasi, menjadi sinyal yang cukup kuat untuk mendorong imbal hasil turun.

Selain inflasi, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun dari 4,09 persen menjadi 4,05 persen. Yield dua tahun turun dari 3,47 persen menjadi 3,40 persen.

Penurunan yield ini menandakan naiknya keyakinan bahwa the Fed memiliki ruang untuk kembali memangkas suku bunga di paruh kedua tahun ini.

Untuk diketahui, pemangkasan suku bunga akan memperbaiki valuasi ekuitas melalui diskonto arus kas yang lebih rendah, sekaligus memberi dorongan likuiditas bagi pasar saham.

Dari paparan data di atas, secara makro kondisi ekonomi AS lebih solid dibandingkan akhir 2025 kemarin.

Selain inflasi melandai, yield obligasi turun, data ketenagakerjaan juga menunjukkan penciptaan lapangan kerja melampaui ekspektasi analis.

Lagi-lagi ini memperkuat narasi soft landing, yaitu ekonomi melambat tanpa jatuh ke resesi tajam.

Baca juga:  Deretan Aksi Korporasi BEI: IPO, Obligasi, dan Rights Issue Dikuasai Sektor Keuangan

Pergerakan Sejumlah Saham

Beralih pada pergerakan sejumlah saham di Wall Street. Pada perdagangan Sabtu pagi WIB, 14 Februari 2026, sejumlah saham yang sebelumnya menjadi korban kekhawatiran disrupsi AI, megalami technical rebound.

Contohnya AppLovin. Sehari sebelumnya saham ini anjlok hampir 20 persen, padahal laporan labanya berada di atas ekspektasi.

Pada perdagangan hari ini, AppLovin berhasil rebound 6,4 persen.

Fenomena serupa terlihat pada saham transportasi dan freight. C.H.

Robinson Worldwide, yang sebelumnya turun 14,5 persen setelah perusahaan kecil Algorhytm Holdings mengklain platform AI-nya mampu meningkatkan volume freight hingga 400 persen tanpa tambahan tenaga kerja, bangkit 4,9 persen.

Di sini, pola sell first, ask later, terlihat jelas. Pasar merespons potensi ancaman AI dengan agresif sebelum mencerna dampak fundamentalnya secara komprehensif.

Dan, perusahaan yang berada di jantung rantai pasok AI menjadi penopang utama indeks. Applied Materials melonjak 8,1 persen udai melaporkan laba kuartalan di atas ekspektasi.

CEO Applied Materials Gary Dickerson, menyebut percepatan investasi industri pada komputasi AI sebagai katalis utama kenaikan saham.

Namun, pernyataan ini kembali menegaskan bahwa arus belanja modal pada infrastruktur AI masih kuat dan menjadi pendorong siklus semikonduktor.

Nvidia Tertekan, Pasar Asia Melemah

Tetapi, tidak semua saham-saham investasi bergerak naik. Nvidia, yang memiliki bobot terbesar di S&P 500, turun 2,2 persen dan menjadi beban terbesar indeks.

Koreksi yang terjadi pada Nvidia ini menunjukkan masih adanya aksi ambil untuk setelah reli panjang.

Di sektor konsumsi dan leisure, DraftKings turun 13,5 persen meski laporan laba kuartalannya melampaui ekspektasi.

Norwegian Cruise Line Holdings ikut merosot 7,6 persen setelah mengganti CEO jelang laporan keuangan, yang memicu ketidakpastian jangka pendek.

Baca juga:  Matahari Perluas Pasar Ritel Lewat Lini Activewear SUKO GO

Sedangkan di pasar Asia, indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,7 persen, diikuti Nikkei 225 Jepang yang melemah 1,2 persen. Untuk pasar Eropa, bergerak campuran.

Secara keseluruhan, pergerakan Wall Street menunjukkan fase konsolidasi setelah volatilitas tajam. Data inflasi yang lebih jinak memberi penyangga terhadap pasar obligasi dan ekuitas.

Namun, rotasi sektoral akibat narasi disrupsi AI tetap menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga saham.

Stabilitas indeks di level tinggi seperti S&P 500 di atas 6.800 mengindikasikan bahwa pasar masih mempertahankan bias bullish jangka menengah, meski dengan volatilitas intraday yang meningkat.

Dengan yield obligasi yang mulai menurun dan inflasi yang menunjukkan tren moderasi, arah kebijakan The Fed akan menjadi kunci berikutnya.

Pasar kini bergerak dalam keseimbangan tipis antara optimisme pelonggaran moneter dan kekhawatiran disrupsi struktural akibat AI.

Kombinasi dua kekuatan ini membentuk lanskap Wall Street yang dinamis, selektif, dan sensitif terhadap data makro maupun perkembangan teknologi.

Leave a Reply

investografi