Pada sesi pertama, indeks bergerak dengan pembukaan 8.235,81 dan sempat menyentuh tertinggi 8.302,16.

Namun, sesaat kemudian IHSG bergerak turun hingga mencapai level terendah, yaitu terendah 8.227,45 sebelum berakhir di 8.285,09. Rentang pergerakan sesi I tercatat sekitar 74,71 poin, dengan posisi penutupan berada di atas level pembukaan.

Dari sisi sebaran pergerakan, sebanyak 445 saham menguat pada sesi I, sementara 218 saham melemah dan 148 saham stagnan. Komposisi ini menunjukkan dominasi penguatan berbasis jumlah emiten pada paruh pertama perdagangan.

Data tersebut menjadi penanda bahwa kenaikan IHSG sesi I ditopang oleh breadth yang lebih lebar dibandingkan dengan jumlah saham yang turun.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesiapada sesi I tercatat sebanyak 31,451 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi Rp13,332 triliun. Untuk frekuensi transaksi mencapai 1.879.122 kali pada sesi pertama.

Sektor Perbankan Dorong Penguatan IHSG

Pada daftar saham yang menguat, pergerakan bank besar ikut tercatat positif. Saham BBCA naik 1,39 persen ke Rp7.300, BBRI naik 0,79 persen ke Rp3.810, dan BMRI naik 1,48 persen ke Rp5.150 per saham.

Saham TLKM juga ikut menguat 0,87 persen ke Rp3.480, UNVR naik 0,43 persen ke Rp2.310, serta BUMI naik 1,37 persen ke Rp296.

Di luar itu, PTRO naik 2,35 persen ke Rp7.625, DEWA naik 4,03 persen ke Rp426, dan INET naik 10,94 persen ke Rp426 per saham.

Sementara, ada pula beberapa saham yang tercatat mengalami pelemahan. Salah satunya adalah TINS yang turun 1,98 persen ke Rp3.970 dan BRMS turun 1,85 persen ke Rp1.060 per saham.

Begitu pula dengan saham UNTR yang turun 0,43 persen ke Rp29.275, sedangkan SMGR turun 2,33 persen ke Rp2.940.

Baca juga:  IKFT Melesat 6,70 Persen, Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Indonesia

Pergerakan kontras ini memperlihatkan bahwa penguatan indeks pada sesi I berjalan bersamaan dengan masih adanya tekanan pada sejumlah saham tertentu.

Potensi Pergerakan IHSG Selanjutnya

Untuk pergerakan selanjutnya, IHSG bergerak membentuk base pemulihan di kisaran 8.000–8.200, lalu memantul dan kembali bergerak di area 8.200–8.300. Saat ini, IHSG berada di sekitar 8.285, sejalan dengan posisi harga.

Pola beberapa candle terakhir di area ini menunjukkan pergerakan yang cenderung “rapat” dibanding candle pada saat koreksi. Fase ini lebih menyerupai konsolidasi pasca-rebound, bukan fase trending kuat seperti periode sebelum koreksi.

Dari sisi level teknikal yang bisa ditarik langsung dari chart:

  • Area 8.227–8.235 menjadi zona intraday penting pada hari ini, karena terlihat sebagai batas bawah pergerakan sesi I dan secara visual berdekatan dengan area konsolidasi terbaru.
  • Area 8.300–8.302 menjadi level uji terdekat di sisi atas, sehingga berfungsi sebagai resistensi terdekat untuk memetakan apakah indeks kembali menguji atas rentang konsolidasinya.
  • Di bawahnya, area psikologis 8.000 terlihat sebagai zona yang sebelumnya menahan penurunan pasca-drop besar, sehingga relevan sebagai referensi support yang lebih lebar.
  • Di atas area 8.300–8.400, grafik masih menyisakan “ruang” menuju area sebelum koreksi tajam, tetapi terlihat ada jarak dan jejak penurunan cepat sebelumnya, sehingga zona atas tersebut secara visual menjadi area supply historis.

Volume mendukung pembacaan fase, di mana saat koreksi tajam, volume membesar. Setelah itu, volume cenderung lebih moderat dan tidak setajam fase penurunan.

Ini konsisten dengan kondisi pasca-rebound yang bergerak dalam rentang lebih sempit.

Jadi kesimpulannya, IHSG berada pada fase konsolidasi pasca-koreksi besar, dengan rentang terdekat yang dapat dipantau berada di sekitar 8.227–8.302 dan area psikologis 8.000 sebagai referensi support yang lebih lebar.

Baca juga:  Danantara Resmi Garap 6 Proyek Strategis, Groundbreaking Dimulai Awal 2026!

Leave a Reply

investografi