Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 8.392,00 sebagai posisi terendah dan 8.452,33 sebagai level tertinggi.
Pada penutupan hari ini, sebagian sektor mencatat pergerakan positif. Sektor properti memimpin penguatan dengan kenaikan 2,41 persen, diikuti sektor cyclical yang naik 2,03 persen.
Sektor finance juga menguat 0,63 persen, industrial naik 0,30 persen, serta energi dan infrastruktur masing-masing bertambah 0,91 persen dan 0,90 persen.
Sebaliknya, sektor basic-industry melemah 2,06 persen, sector teknologi terkoreksi 0,98 persen, kesehatan turun 0,25 persen, transportasi turun 0,38 persen, dan non-cyclical melemah 0,22 persen.
Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbkmempimpin daftar top gainer hari ini setelah mengalami kenaikan sebesar 34,51 persen ke level 191.
Di posisi kedua terdapat PT Sanurhasta Mitra Tbkyang naik 34,44 persen ke 242, serta PT Sentral Mitra Informatika Tbkyang menguat 25,45 persen ke 138.
Saham PT Multitrend Indo Tbkturut mencatat kenaikan 25,00 persen ke level 400, sementara PT Paramita Bangun Sarana Tbknaik 25,00 persen ke 1.600.
Di sisi lain, saham PT Puri Global Sukses Tbkmenjadi top loser dengan penurunan 14,86 persen ke level 945. PT Sillo Maritime Perdana Tbkjuga melemah 14,86 persen ke 5.875.
Saham PT Pudjiadi Prestige Tbkturun 14,68 persen menjadi 930, sementara PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbkmelemah 14,53 persen ke 735. PT Nusantara Berkah Tbkjuga terkoreksi 14,00 persen ke 129.
IHSG Berpeluang Tembus 8.500
PT Indo Premier Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabunganberpotensi menguat dan menembus level 8.500 pada perdagangan pekan ini 17 sampai 21 November 2025.
Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya spekulasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia pada 19 November 2025.
Ekspektasi tersebut diperkirakan kembali mendorong minat investor pada sektor-sektor sensitif suku bunga seperti perbankan, infrastruktur, dan properti.
Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Indri Liftiany Travelin Yunus mengatakan, keyakinan pasar semakin kuat setelah sektor infrastruktur dan properti mencatatkan penguatan signifikan pada pekan lalu.
Indri menjelaskan, pada perdagangan pekan lalu, IHSG sempat menyentuh level All Time High di 8.478, sebelum melemah di akhir pekan dan ditutup pada level 8.370.
Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp332 miliar. Dari 11 sektor, terdapat enam sektor yang menguat, dipimpin oleh infrastruktur yang naik 6,92 persen dan properti yang meningkat 5,35 persen.
Kinerja IHSG sempat tertahan akibat sentimen global, terutama koreksi di Wall Street yang dipicu penurunan saham teknologi dan AI karena valuasi yang dinilai terlalu tinggi.
Meski demikian, berakhirnya government shutdown di Amerika Serikat memberi kepastian baru bagi pasar, terutama karena aktivitas pemerintahan kembali normal dan data ekonomi dapat dirilis sesuai jadwal.
Begitu juga dengan pernyataan hawkish The Federal Reserve turut menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga di AS, sehingga memicu volatilitas di pasar global.
Memasuki pekan ini, Indri menilai pelaku pasar akan kembali fokus pada sektor-sektor yang sensitif terhadap arah suku bunga. “Kami melihat spekulasi terhadap sektor perbankan, infrastruktur, dan properti masih akan kuat,” ujarnya.
Menurutnya, para investor juga akan mencermati aksi korporasi sejumlah emiten yang berpotensi memanfaatkan momentum kenaikan harga saham pada November ini.
Indri memperkirakan IHSG bergerak variatif cenderung menguat dengan rentang support di level 8.325 dan resistance di 8.500.
Potensi penguatan ini didukung oleh sejumlah rilis data penting pada pekan ini, seperti FOMC Minutes pada 19 November, S&P Global Composite PMI Flash AS pada 21 November yang diproyeksikan turun tipis ke 53,8 dari 54,6, serta rangkaian data pengangguran AS yang dirilis pada 20 November.
Sentimen utama datang dari keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pada 19 November.
Konsensus memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, langkah yang dipandang dapat memperkuat daya tarik sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan.
Jika pemangkasan benar terjadi, pasar diperkirakan merespons positif, terutama pada saham-saham perbankan dan properti yang berpotensi mencatat rebound lanjutan.


Leave a Reply