...

I

IHSG sempat tertekan tajam hingga menyentuh area terendah di kisaran 7,712 sebelum bergerak fluktuatif dan diperdagangkan di zona pelemahan.

Sentimen pasar masih dibayangi sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan pasar modal nasional serta respons investor global terhadap sinyal yang berkembang dari pertemuan dengan MSCI tersebut.

Berdasarkan data perdagangan intraday, IHSG dibuka di level 7,888, kemudian sempat mencatatkan level tertinggi di 7,919 dan terendah di 7,712.

Sepanjang sesi pagi, tekanan jual terlihat mendominasi seiring aksi ambil untung dan kehati-hatian investor yang memilih mengamankan posisi setelah reli pada pekan sebelumnya.

Nilai transaksi pasar tercatat mencapai sekitar Rp4,06 triliun dengan volume perdagangan lebih dari 73 juta lot, mencerminkan aktivitas yang masih cukup ramai di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Dari sisi aliran dana asing, investor global tercatat masih membukukan beli bersih di seluruh pasar.

Nilai beli asing mencapai sekitar Rp9,56 triliun, sementara jual asing berada di kisaran Rp8,90 triliun, sehingga menghasilkan net foreign buy sekitar Rp654,94 miliar.

Aliran dana asing yang masih masuk menunjukkan bahwa minat investor global terhadap saham-saham Indonesia belum sepenuhnya surut, meski volatilitas jangka pendek meningkat seiring munculnya berbagai sentimen kebijakan dan dinamika global.

Di level saham, pergerakan harga menunjukkan kontras yang tajam antara saham-saham yang menguat signifikan dan saham yang mengalami tekanan dalam.

Saham PT Langgeng Makmur Industri Tbk atau LMPI dari sektor industri dasar mencatatkan penguatan sekitar 35 persen ke level 270, sementara PT Eka Sari Lorena Transport Tbk atau LRNA dari sektor transportasi melonjak sekitar 34,04 persen ke level 252.

Saham PT Soho Global Health Tbk atau SOHO dari sektor kesehatan juga menguat sekitar 25 persen ke level 2.800, diikuti PT Ever Shine Tex Tbk atau ESTI dari sektor industri dasar yang naik sekitar 20 persen ke level 210, serta PT Eratex Djaja Tbk atau ERTX dari sektor industri tekstil yang menguat sekitar 17,21 persen ke level 286.

Baca juga:  Brent dan WTI Terjun Lagi! Ini Ramalan Mencemaskan dari Survei Reuters

Lonjakan saham-saham ini banyak dipicu oleh sentimen spesifik emiten dan pergerakan spekulatif jangka pendek.

Sebaliknya, tekanan jual paling besar terjadi pada saham PT Pakuan Tbk atau UANG dari sektor properti yang anjlok sekitar 14,97 persen ke level 3.010.

Saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk atau BIPI dari sektor infrastruktur turun sekitar 14,97 persen ke level 142, disusul PT Asri Karya Lestari Tbk atau ASLI dari sektor properti yang melemah sekitar 14,96 persen ke level 398.

Saham PT Arkora Hydro Tbk atau ARKO dari sektor energi terbarukan terkoreksi sekitar 14,94 persen ke level 6.550, sementara PT Sanurhasta Mitra Tbk atau MINA dari sektor properti turun sekitar 14,91 persen ke level 274.

Tekanan ini mencerminkan aksi distribusi yang cukup agresif pada saham-saham berkapitalisasi kecil hingga menengah.

Secara sektoral, tekanan paling besar terlihat pada sektor konsumer siklikal yang terkoreksi sekitar 5,04 persen, diikuti sektor infrastruktur yang melemah sekitar 3,29 persen dan sektor energi yang turun sekitar 3,22 persen.

Sektor properti juga masih tertekan sekitar 2,53 persen, sementara sektor bahan baku turun sekitar 1,56 persen dan sektor non-siklikal melemah sekitar 1,50 persen.

Di tengah mayoritas sektor yang berada di zona merah, sektor kesehatan masih mampu bertahan menguat sekitar 0,47 persen, sementara sektor teknologi mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,32 persen, mencerminkan minat selektif investor pada saham-saham defensif dan berbasis pertumbuhan.

Pertemuan daring antara Bursa Efek Indonesia dengan MSCI pada Senin sore, 2 Februari 2026, menjadi salah satu sorotan utama pelaku pasar.

Dalam pertemuan tersebut, BEI memaparkan perkembangan reformasi pasar modal, peningkatan kualitas tata kelola, serta berbagai inisiatif untuk memperkuat likuiditas dan daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global. Otoritas Jasa Keuangan dan Danantara hadir 

Baca juga:  Utang Jumbo ADMF Capai USD100 Juta, Ini 5 Risiko Utama yang Mengintai!

Dari sisi teknikal, analis pasar memandang IHSG saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami koreksi tajam.

Area support jangka pendek diperkirakan berada di kisaran 7,654 hingga 7,481, sementara area resistance terdekat berada di sekitar 8,094 hingga 8,318.

Selama IHSG masih mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang teknikal untuk rebound jangka pendek tetap terbuka, meski volatilitas diperkirakan masih tinggi seiring investor mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan pasar modal nasional, serta respons lanjutan investor asing terhadap hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia, MSCI, Otoritas Jasa Keuangan, dan Danantara.

Leave a Reply

investografi