Kondisi tersebut membuka peluang sekaligus tantangan bagi pasar saham Indonesia.
Founder Kawancuan Indonesia, Muhammad Fatah Al Falah, menilai bahwa tekanan pasar belakangan ini lebih bersifat teknikal dibanding fundamental, termasuk dampak penyesuaian indeks global seperti MSCI.
“MSCI kemarin itu faktor teknikal, bukan fundamental. Secara ekonomi, GDP Indonesia justru naik.
Kalau lihat globalnya, investor masih dalam kondisi greedy, bukan fear,” ujar Fatah.
Ia merujuk pada indikator global seperti CNN Business Fear and Greed Index yang masih menunjukkan minat risiko investor dunia relatif terjaga. Artinya, ruang pemulihan IHSG tetap terbuka selama sentimen global tidak berubah drastis.
Fatah menjelaskan, salah satu faktor utama yang akan menggerakkan IHSG adalah arah kebijakan likuiditas Amerika Serikat melalui Quantitative Easingdan Quantitative Tightening
“QE itu ibarat penyerang. Likuiditas dibanjiri ke market, bunga turun, saham bergerak.
Tapi efek sampingnya dolar melemah dan risiko bubble makin besar,” jelasnya.
Menurutnya, fase likuiditas global yang longgar dapat menopang pasar saham hingga kuartal II 2026, sebelum risiko pengetatan kembali muncul di paruh kedua tahun.
Pelemahan dolar AS juga mendorong investor global mencari store of value, seperti emas, logam industri, dan energi, yang pada akhirnya memberi dampak tidak langsung ke saham-saham komoditas di IHSG.
Selain faktor moneter, Fatah menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik yang ikut membentuk arah pasar saham.
“Ketika konflik dan ketidakpastian meningkat, orang keluar dari fiat currency dan masuk ke precious metal, industrial metal, lalu energi. Itu wave yang biasanya terjadi,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga emas yang agresif belakangan menjadi sinyal awal pergeseran preferensi investor global.
Setelah precious metal, arus modal biasanya bergerak ke logam industri seperti tembaga, aluminium, nikel, lalu ke sektor energi dan batu bara.
Bagi IHSG, rotasi ini dinilai positif karena struktur indeks Indonesia masih ditopang emiten berbasis komoditas.
“Indonesia diuntungkan karena punya emas, nikel, timah, batu bara. Kalau global cari store of value, saham-saham komoditas kita bisa ikut terangkat dan menopang IHSG,” kata Fatah.
Fatah juga menjelaskan mekanisme pelemahan dolar AS akibat perubahan arus dana global, termasuk dari Jepang melalui skema carry trade.
“Ketika Jepang mulai menaikkan bunga, carry trade berkurang. Dana keluar dari US Treasury, dolar menumpuk, dan akhirnya USD melemah. Kalau DXY turun, biasanya emas naik,” jelasnya.
Kondisi tersebut memperkuat minat terhadap aset lindung nilai, yang kemudian tercermin ke pergerakan saham emas dan logam di IHSG.
Dengan kombinasi likuiditas global, geopolitik, dan pelemahan dolar, Fatah menilai IHSG berpotensi bergerak dengan pola rotasi sektor, bukan reli merata.
“2026 itu bukan sekadar naik bareng. Akan ada rotasi.
Precious metal dulu, industrial metal, baru energi. Investor harus tahu gelombangnya, bukan sekadar ikut ramai,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa volatilitas akibat sentimen global sebaiknya dilihat sebagai peluang, bukan hanya risiko.
“Ketika market takut karena isu global, justru di situ biasanya ada ruang akumulasi di saham-saham yang sesuai dengan story global,” pungkas Fatah.
Reporter: Nadek


Leave a Reply