...

Namun, analis menilai sektor komoditas tetap menjadi penopang penting bagi pasar saham Indonesia.

Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Faudzan Djamal, mengatakan bahwa tekanan terhadap IHSG berasal dari kebijakan dalam negeri yang memengaruhi kepercayaan investor baik domestik maupun mancanegara.

“Tantangan ke depan itu justru lebih banyak datang dari sisi domestik, terutama kebijakan di Indonesia sendiri.

Meski begitu, ia menilai secara makro harga komoditas dunia masih menunjukkan tren positif, khususnya pada nikel, tembaga, timah, aluminium, dan emas.

Ketatnya pasokan global serta akumulasi stok oleh China menjadi faktor yang menjaga harga.

“Supply base metal global relatif terbatas. China juga terlihat mengamankan stok logam strategis seperti copper.

Ini yang menopang story sektor komoditas di pasar saham, termasuk di IHSG,” jelasnya.

Faudzan menilai isu penyesuaian MSCI berpotensi menekan IHSG dalam jangka pendek karena memicu rebalancing portofolio investor asing.

“Kalau ada shock dari MSCI, pasar memang bisa tertekan dulu. Tapi koreksi seperti itu sering kali justru membuka ruang akumulasi di saham-saham yang fundamentalnya masih kuat,” katanya.

Menurutnya, penurunan harga akibat sentimen non-fundamental seharusnya tidak selalu diartikan sebagai pelemahan struktural IHSG, melainkan bagian dari siklus pasar.

Dalam struktur IHSG, saham berbasis komoditas masih memegang peran besar. Faudzan menilai narasi bullish komoditas global dapat membantu menjaga performa indeks di tengah ketidakpastian sektor lain.

“Metal mining masih punya story. Emas dan base metal secara earnings masih bisa justify kinerja emiten di 2026, dan itu penting untuk menopang IHSG,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minat investor global terhadap emas yang tetap tinggi karena bank sentral dunia masih aktif menambah cadangan emas.

Baca juga:  PGN Gagas Gunakan Strategi Jitu untuk Perkuat Layanan Gas Bumi di Bandung

“Selama central bank masih net buyer, harga emas cenderung sustain. Itu memberi sentimen positif ke saham emas di pasar,” tambahnya.

Faudzan menyarankan pelaku pasar tidak hanya mengandalkan analisis teknikal, tetapi juga memperhatikan valuasi dan pertumbuhan laba ke depan.

“Sekarang bukan cuma lihat PER atau EV/EBITDA. Investor juga perlu lihat PEG, apakah valuasinya masih sebanding dengan growth earnings di 2026,” jelasnya.

Ia menutup dengan menekankan bahwa pergerakan IHSG ke depan akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara sentimen global, kebijakan domestik, dan kinerja sektor unggulan seperti komoditas.

“IHSG tetap punya peluang, tapi investor harus lebih selektif dan paham cerita sektornya,” pungkas Faudzan.

Reporter: Nadek

Leave a Reply

investografi