Tekanan harga muncul setelah kedua negara menyelesaikan satu putaran pembicaraan pada Jumat lalu, yang dinilai memberi sinyal awal ke arah deeskalasi ketegangan geopolitik kawasan.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent turun 89 sen atau 1,31 persen ke level USD67,16 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas IntermediateAS melemah 79 sen atau 1,24 persen ke posisi USD62,76 per barel.
Pelemahan harga mencerminkan perubahan sentimen pelaku pasar yang sebelumnya memasang premi risiko geopolitik akibat kekhawatiran eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Diplomat tertinggi Iran menyatakan bahwa pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat yang dimediasi Oman berlangsung dengan awal yang positif dan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Pernyataan tersebut dinilai mampu meredam kekhawatiran bahwa kegagalan diplomasi dapat mendorong kawasan Timur Tengah ke arah konflik terbuka.
Selat Hormuz Jadi Titik Fokus
Harga minyak mentah dunia kembali tergelincir hampir 3 persen pada Kamis, di tengah gelombang gejolak pasar yang belum menemukan arah jelas.
Pelemahan ini berakar dari kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat mengadakan pembicaraan di Oman pada Jumat, sebuah perkembangan diplomatik yang berhasil meredam kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah berjangka Brent, acuan global, ditutup turun USD1,91 atau 2,75 persen ke USD67,55 per barel, sementara West Texas Intermediate, patokan Amerika Serikat, menyusut USD1,85 atau 2,84 persen ke USD63,29 per barel dalam perdagangan yang penuh gejolak. Seperti dikutip reuters di Jakarta, Jumat 6 Februari 2026.
Meski perundingan dirayakan sebagai penanda meredanya ketegangan, sejumlah analis tetap menyimpan skeptisisme soal hasil yang benar‑benar substantif.
Phil Flynn dari Price Futures Group mengatakan bahwa meskipun pasar memberikan respons positif awal terhadap rencana perundingan, hasil akhir pembicaraan masih jauh dari kepastian.
Dialog itu sendiri muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan, dan upaya negara‑negara regional mencegah pertikaian yang bisa meluas menjadi konflik besar.
Ketegangan ini masih membayangi harga minyak yang sangat sensitif terhadap isu geopolitik.
Analis dari Aegis Hedging mencatat bahwa perbedaan ekspektasi soal ruang lingkup dan tujuan dialog justru mempertahankan ketidakpastian tinggi di pasar, sehingga memicu lonjakan volatilitas karena pelaku pasar terus menimbang peluang eskalasi konflik dibandingkan optimisme diplomasi.
Sekitar sepertiga konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang menjadi jalur strategis antara Oman dan Iran.
Negara‑negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengandalkan rute ini untuk ekspor minyaknya, menjadikannya titik sentral yang rawan terhadap gangguan pasokan.
Dinamika pasar yang tidak menentu semakin memaksa investor untuk mengunci harga minyak lebih awal pada tahun ini.
Volume kontrak WTI Midland di Houston mencatat rekor pada Januari, didorong oleh kekhawatiran risiko pasokan dari Timur Tengah serta meningkatnya ekspor minyak Venezuela ke Gulf Coast AS.


Leave a Reply