Dilansir dari Reuters, kontrak berjangka minyak Brent ditutup menguat USD69.46 per barel atau naik sekitar USD2.13 setara 3,16 persen.
Sementara itu minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate atau WTI juga terdongkrak menjadi USD65.14 per barel, naik USD1.93 atau sekitar 3,05 persen.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang kembali membayangi pasar energi global.
Laporan Axios pada Rabu menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat menolak permintaan Iran untuk mengubah lokasi pertemuan yang semula direncanakan berlangsung Jumat. Media tersebut mengutip dua pejabat AS sebagai sumber informasi.
Penolakan itu memunculkan spekulasi bahwa dialog yang diharapkan dapat meredakan ketegangan justru bisa berantakan sebelum dimulai.
Sejak awal pekan ini harga minyak memang bergerak naik turun cukup liar.
Pasar bereaksi silih berganti antara harapan adanya pembicaraan damai untuk menurunkan ketegangan Washington dan Teheran, serta kekhawatiran akan terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz yang sangat vital.
Direktur energi dan pengilangan di ICIS Ajay Parmar menjelaskan bahwa risiko konflik bersenjata dengan Iran dapat membawa dampak besar terhadap pasokan global.
Ia mengatakan jika perang terbuka benar-benar terjadi di Iran, hal itu bisa menempatkan produksi minyak Iran sebesar 3,4 juta barel per hari dalam bahaya.
Tetapi yang lebih penting adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen cairan minyak dunia.
Menurutnya premi risiko tersebut masih tercermin kuat di pasar dan menjadi alasan utama mengapa harga minyak saat ini tetap tinggi dibandingkan kondisi fundamental yang sebenarnya.
Ketegangan militer juga semakin memanaskan situasi. Militer Amerika Serikat pada Selasa mengumumkan telah menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak milik Iran yang secara agresif mendekati kapal induk AS di Laut Arab.
Insiden itu kembali menunjukkan rapuhnya hubungan kedua negara.
Pada saat yang hampir bersamaan, sumber maritim dan sebuah perusahaan konsultan keamanan melaporkan sekelompok kapal cepat bersenjata Iran mendekati kapal tanker berbendera Amerika Serikat di perairan utara Oman.
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari sebelum rencana pertemuan antara pejabat AS dan Iran di Oman pada Jumat, sebagaimana disampaikan seorang pejabat regional.
Peran Selat Hormuz memang sangat krusial bagi perdagangan minyak dunia.
Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui jalur sempit tersebut, terutama untuk dikirim ke pasar Asia.
Setiap gangguan kecil di kawasan itu selalu berpotensi mengguncang harga energi global.
Di belahan dunia lain, dinamika pasar minyak juga dipengaruhi perkembangan dari India. Impor minyak Rusia oleh India dilaporkan menurun pada Januari, melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak Desember.
Sumber Reuters menyebutkan bahwa kilang-kilang minyak di India mulai mencari sumber pasokan alternatif akibat tekanan sanksi Barat terhadap Rusia serta berlangsungnya pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan India.
Dari Amerika Serikat sendiri muncul kabar yang ikut memberi dukungan terhadap kenaikan harga.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA pada Rabu melaporkan bahwa persediaan minyak mentah negeri itu turun pada pekan lalu setelah badai musim dingin melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.
Menurut EIA, stok minyak mentah AS berkurang 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel pada pekan lalu. Penurunan itu terjadi seiring produksi minyak Amerika yang merosot ke level terendah sejak November 2024.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan para analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan stok sebesar 489.000 barel.
Meski demikian, efek positif dari penurunan persediaan minyak mentah itu dinilai tidak terlalu besar.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan bahwa kenaikan harga akibat berkurangnya stok kemungkinan terbatas karena penurunan yang terjadi tidak sebesar estimasi American Petroleum Institute sehari sebelumnya.
Lembaga tersebut pada Selasa memperkirakan penurunan stok bisa mencapai lebih dari 11 juta barel.
Kombinasi antara risiko geopolitik di Timur Tengah dan dinamika pasokan di Amerika Serikat membuat pasar minyak kembali berada dalam mode waspada.
Para pelaku pasar kini menunggu dengan cermat apakah perundingan AS dan Iran benar-benar terlaksana atau justru gagal total. Setiap perkembangan kecil dari kawasan Teluk berpotensi kembali menggerakkan harga dalam waktu singkat.
Dengan kurs Rp16.850 per dolar AS, harga minyak Brent saat ini setara sekitar Rp1.170. (USD69.46 dikali Rp16.850) per barel.
Sementara harga WTI berada di kisaran Rp1.097. (USD65.14 dikali Rp16.850) per barel.
Angka tersebut menunjukkan betapa sensitifnya harga energi terhadap isu politik global.
Pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Selama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik terang, risiko premi keamanan akan terus melekat pada harga.
Para trader dan investor pun memilih bersikap hati-hati sambil menanti kepastian dari meja perundingan di Oman.
Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.
Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.
Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.


Leave a Reply