Pada Jumat waktu setempat, atau Sabtu pagi, 7 Februari 2026, emas spot melonjak hampir 4 persen ke level sekitar USD4.959 per ons, setelah sehari sebelumnya mengalami koreksi dalam.
Kontrak berjangka emas AS turut menguat, sementara perak mencatat reli lebih agresif dengan kenaikan hampir 8 persen.
Pemulihan ini terjadi setelah pasar sempat berada dalam kondisi yang menyerupai “mode margin call”.
Pada Kamis, emas spot tertekan hingga turun 1,8 persen ke kisaran USD4.872 per ons, yang dipicu oleh penguatan dolar AS dan aksi jual luas di pasar saham global.
Tekanan tersebut memaksa sebagian pelaku pasar melepas posisi logam mulia untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Di titik terendah intraday, emas bahkan sempat menyentuh area USD4.654 per ons sebelum akhirnya berbalik arah.
CME Grup Naikkan Persyaratan Margin
Tekanan likuiditas semakin terasa setelah CME Group kembali menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas dan perak di COMEX.
Margin awal dan pemeliharaan untuk kontrak emas 100 ons dinaikkan dari 8 persen menjadi 9 persen untuk sejumlah akun tertentu. Lebijakan ini efektif setelah penutupan perdagangan.
Kenaikan margin ini meningkatkan beban modal bagi trader berleverage, sehingga memaksa sebagian pelaku menambah dana segar atau memangkas posisi secara cepat.
Kebijakan ini bertujuan meredam volatilitas, tetapi dalam jangka pendek justru memperbesar risiko aksi jual teknis.
Meski demikian, pelemahan dolar AS memberi ruang bernapas bagi emas. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar yang masih memiliki pandangan bullish, untuk kembali masuk.
Namun, pasar juga menyadari bahwa tanpa katalis geopolitik baru yang signifikan, reli emas berpotensi menghadapi hambatan untuk menembus rekor harga berikutnya.
Meredanya Ketegangan AS-Iran
Faktor geopolitik tetap menjadi lapisan sentimen yang penting.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran yang menyebut pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat sebagai “awal yang baik” memberi sinyal meredanya ketegangan dalam jangka sangat pendek.
Namun, fakta bahwa kedua pihak masih kembali ke negaranya masing-masing untuk berkonsultasi, menyisakan ketidakpastian. Risiko kegagalan diplomasi tetap ada dan berpotensi kembali mengangkat permintaan aset lindung nilai seperti emas.
Dari sisi kebijakan moneter, bank sentral Amerika Serikat masih bersikap menunggu.
Wakil Ketua Federal Reserve menegaskan kebijakan saat ini berada pada posisi yang tepat, dengan arah suku bunga sepenuhnya bergantung pada data ekonomi mendatang.
Suku bunga acuan yang berada di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen membuat emas tetap sensitif terhadap setiap indikasi pelonggaran kebijakan.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung lebih menarik ketika ekspektasi penurunan suku bunga menguat.
Jumlah Lowongan Pekerjaan AS Anjlok
Data pasar tenaga kerja mulai menambah kompleksitas sentimen tersebut.
Jumlah lowongan kerja di Amerika Serikat turun signifikan pada Desember menjadi sekitar 6,54 juta, terendah sejak 2020, mencerminkan perlambatan permintaan tenaga kerja menjelang akhir 2025.
Sejumlah pejabat bank sentral memperingatkan bahwa kondisi pasar kerja dengan perekrutan dan pemutusan hubungan kerja yang sama-sama rendah dapat berubah cepat dan berdampak negatif bagi rumah tangga.
Meski demikian, sebagian analis menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pasar tenaga kerja telah memasuki fase pelemahan struktural.
Kenaikan harga emas turut mengangkat saham-saham terkait logam mulia. Di Kanada, indeks sektor emas melonjak lebih dari 5 persen, mengikuti reli harga bullion.
Memasuki pekan depan, perhatian investor tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang tertunda, disusul data inflasi konsumen. Kedua indikator ini menjadi kunci untuk membaca arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Ketahanan reli emas di akhir pekan ini pada akhirnya akan diuji oleh kombinasi data ekonomi tersebut dan dinamika volatilitas global yang masih tinggi.


Leave a Reply