...

Harga logam mulia yang sempat melambung ke rekor tertinggi mendadak terkoreksi tajam. Di balik gejolak itu, sorotan utama tertuju pada satu faktor kunci.

Seberapa agresif investor China membeli emas di tengah penurunan harga kini disebut sebagai penentu arah pasar ke depan.

Berdasarkan catatan Stockbit Sekuritas, Senin, 2 Februari 2026, data perdagangan menunjukkan harga emas di pasar spot sempat merosot sekitar 18,1 persen hanya dalam dua hari.

Dari posisi pembukaan Jumat pekan lalu di level USD5375 per ons atau setara Rp90.593.750 per ons, harga terjun ke titik terendah USD4403 per ons atau sekitar Rp74.175.550 per ons pada Senin kemarin.

Setelah tekanan jual mereda, harga emas berangsur pulih dan bergerak di kisaran USD4700 hingga USD4800 per ons.

Laporan Bloomberg menyebutkan koreksi besar itu dipicu aksi ambil untung pada produk ETF berbasis bullion serta instrumen derivatif berleverage.

Langkah para pelaku pasar tersebut terjadi berbarengan dengan penguatan dolar Amerika Serikat setelah mantan anggota gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, ditunjuk sebagai calon kepala The Fed berikutnya.

Warsh dikenal memiliki pandangan kritis terhadap ukuran neraca The Fed yang dianggap terlalu besar.

Pasar pun mulai mengantisipasi kebijakan pengetatan neraca atau quantitative tightening serta berkurangnya intervensi bank sentral di pasar keuangan.

Kondisi itu memicu spekulasi bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan akan lebih ketat dan lebih konservatif.

Di tengah perubahan sentimen global tersebut, reli harga emas yang sebelumnya menembus rekor tertinggi USD5595 per ons sempat mengejutkan banyak kalangan.

Lonjakan itu disebut bergerak jauh melampaui kalkulasi fundamental permintaan dan pasokan.

Bloomberg mencatat, arus uang panas dari para spekulan di China menjadi salah satu motor utama kenaikan harga sebelumnya.

Baca juga:  Arsjad Rasjid: RI Harus Berani Keluar dari Bayang-Bayang AS dan Ekspansi Pasar Global!

Gelombang pembelian datang dari berbagai lapisan, mulai investor ritel hingga dana besar, yang berlomba masuk ke aset aman saat ketidakpastian global meningkat.

Kini, ketika harga mulai terkoreksi, fokus pasar bergeser ke perilaku investor Negeri Tirai Bambu tersebut.

Laporan Bloomberg menegaskan langkah mereka dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan apakah koreksi emas hanya sementara atau berubah menjadi tren penurunan yang lebih panjang.

“Seberapa agresif investor China membeli emas saat harga turun akan sangat menentukan arah pasar ke depan,” demikian laporan Bloomberg yang dikutip dari riset harian Stockbit Sekuritas, Selasa, 3 Februari 2026.

Menurut laporan itu, selama akhir pekan para pembeli emas memadati pasar bullion terbesar di Shenzhen, China. Mereka berburu perhiasan dan batangan emas menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang semakin dekat.

Aktivitas tersebut menunjukkan minat beli fisik masih kuat meski harga tengah bergejolak.

Namun dinamika pasar China segera menghadapi jeda panjang. Pasar domestik di negara itu akan tutup lebih dari satu pekan mulai 16 Februari 2026 karena libur Tahun Baru Imlek.

Periode libur tersebut berpotensi mengurangi likuiditas dan menambah ketidakpastian arah harga dalam jangka pendek.

Sejumlah analis menilai volatilitas tinggi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. Analis Jinrui Futures Co., Zijie Wu, menyampaikan pandangannya kepada Bloomberg.

Ia menyebut mendekatnya libur Imlek akan mendorong banyak trader menurunkan eksposur dan mengurangi risiko.

“Volatilitas tinggi dan libur Tahun Baru Imlek yang semakin dekat akan mendorong trader mengurangi posisi dan menurunkan risiko,” kata Zijie Wu.

Meski tekanan jual sempat mengguncang, tidak semua pihak melihat koreksi ini sebagai sinyal berakhirnya tren bullish emas. Analis Deutsche Bank AG, Michael Hsueh, menilai fundamental jangka panjang logam mulia masih kokoh.

Baca juga:  BRI Tumpahkan Rp130,2 Triliun KUR, Sektor Pertanian Jadi Raja!

Hsueh bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi menembus USD6000 per ons atau sekitar Rp101.100.000 per ons. Ia menilai kondisi pasar saat ini belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren yang bersifat permanen.

Menurutnya, permintaan emas secara struktural masih didukung oleh ketidakpastian geopolitik, kebutuhan lindung nilai terhadap inflasi, serta minat investor terhadap aset aman.

“Fundamental permintaan emas tetap solid dan outlook strukturalnya masih positif,” ujar Michael Hsueh seperti dikutip Bloomberg.

Dengan kondisi itu, pasar emas global memasuki fase yang sangat bergantung pada langkah investor China dalam beberapa pekan ke depan.

Apakah mereka kembali agresif membeli saat harga turun atau memilih menahan diri, akan menjadi penentu apakah harga emas kembali menanjak atau justru melanjutkan koreksi.

Satu hal yang kini jelas, gejolak emas bukan lagi sekadar urusan kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Pergerakan pasar semakin dipengaruhi perilaku pembeli raksasa dari Asia, khususnya China, yang kini memegang kunci arah harga logam mulia dunia.

Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.

Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.

Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Leave a Reply

investografi