Di pasar berjangka, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Februari 2026 naik tipis USD0,05 menjadi USD116,2 per ton.
Namun, kontrak Maret turun USD1,1 ke USD120,45 per ton dan April melemah USD1,65 ke USD120,6 per ton. Pola ini mencerminkan tekanan pada kurva forward jangka pendek hingga menengah, meski kontrak terdekat relatif stabil.
Di Eropa, harga batu bara Rotterdam justru menguat untuk seluruh tenor utama. Kontrak Februari naik USD0,7 menjadi USD107,65 per ton, Maret bertambah USD0,2 menjadi USD113,35 per ton, dan April meningkat USD0,5 menjadi USD113,3 per ton.
Kenaikan ini menunjukkan adanya dukungan harga di pasar Atlantik, berbeda dengan pelemahan sebagian kontrak Newcastle.
Sementara itu, di pasar fisik Asia, terutama pelabuhan India, harga batu bara termal asal Indonesia mencatat kenaikan mingguan yang lebih signifikan.
Berdasarkan penilaian BigMint, harga batu bara 5.000 GAR naik INR600 per ton menjadi INR8.300 di Kandla dan INR8.200 di Vizag.
Untuk 4.200 GAR, harga naik INR450 per ton menjadi INR6.450 di Kandla dan INR6.350 di Vizag. Segmen 3.400 GAR juga meningkat INR250 per ton menjadi INR4.850 di Navlakhi.
Kenaikan lebih tajam pada segmen GAR menengah hingga tinggi menunjukkan preferensi terhadap kualitas kalori yang lebih tinggi, terutama untuk kebutuhan blending.
Pasokan Batu Bara Indonesia
Faktor utama pendorong kenaikan di India adalah ketatnya pasokan dari Indonesia di tengah ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran BiayaTerbatasnya penawaran baru dari penambang Indonesia dan minimnya kargo spot yang tersedia mengurangi likuiditas pasar fisik.
Ketidakpastian regulasi menyebabkan produsen bersikap hati-hati dalam produksi dan ekspor, sehingga visibilitas pengiriman jangka pendek menjadi terbatas.
Dari sisi fundamental permintaan, konsumsi di India tetap stabil. Persediaan batu bara di pembangkit listrik tenaga termal meningkat menjadi 58,8 juta ton per 19 Februari 2026, setara sekitar 19 hari konsumsi. Secara agregat, tingkat stok terlihat memadai.
Namun distribusi yang tidak merata menyebabkan sekitar 23 pembangkit masih berada dalam kondisi stok kritis, termasuk unit berbasis batu bara domestik, impor, dan washery reject.
Ketidakseimbangan ini menjaga aktivitas pembelian, terutama untuk pembangkit yang menghadapi tekanan pasokan bahan bakar.
Harga acuan mingguan batu bara Indonesia turut mencatat kenaikan moderat, dengan 5.800 GAR naik USD1,05 per ton, 4.200 GAR naik USD0,54 per ton, dan 3.400 GAR naik USD0,23 per ton.
Kenaikan yang lebih kuat pada kualitas menengah konsisten dengan dinamika permintaan dari pasar India yang sensitif terhadap harga dan memerlukan kalori tertentu untuk pencampuran.
Secara keseluruhan, struktur pasar batu bara global memperlihatkan perbedaan antara tekanan pada kontrak berjangka tertentu di Newcastle dan penguatan di Rotterdam serta pasar fisik India.
Sentimen jangka pendek ditopang oleh disiplin pasokan Indonesia dan permintaan stabil dari Asia, sementara kurva berjangka mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap keseimbangan pasokan ke depan.
Dinamika ini menghasilkan pergerakan harga yang cenderung terbatas namun tetap menunjukkan dukungan pada segmen kualitas menengah hingga tinggi.


Leave a Reply