Direktur Jenderal PEN, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa ekspor produk farmasi Indonesia, termasuk ke pasar Korsel, menegaskan ketangguhan daya saing industri dalam negeri.

“Ekspor obat-obatan seperti ini adalah bukti konkret kapasitas produksi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujar Puntodewi dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.

Puntodewi berharap perusahaan dapat memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendorong transfer teknologi untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk farmasi nasional.

“Kolaborasi antara investor dan pelaku usaha menjadi kunci untuk memperbesar peran Indonesia di panggung global,” tambahnya.

Pelepasan ekspor kali ini juga menjadi momentum strategis, terlebih setelah perusahaan memperoleh fasilitas kawasan berikat dari Ditjen Bea Cukai pada 16 Desember 2025.

Fasilitas ini menyediakan kemudahan fiskal, mendukung kelancaran produksi, efisiensi biaya, dan perluasan penetrasi pasar.

Badan Pusat Statistik mencatat, kinerja ekspor farmasi Indonesia dalam lima tahun terakhirmenunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 7,63 persen.

Tahun 2025, Korea Selatan menempati posisi ketiga sebagai tujuan ekspor produk farmasi Indonesia terbesar, dengan nilai 75,46 juta dolar AS, menyumbang 10,24 persen dari total ekspor farmasi Indonesia ke dunia.

Secara global, permintaan produk farmasi dunia antara 2020-2024 meningkat sebesar 11,02 persen.

Pendapatan industri farmasi global diperkirakan meningkat dari 1,16 triliun dolar AS pada 2024 menjadi 1,53 triliun dolar AS pada 2030, dengan CAGR 4,74 persen, menunjukkan prospek cerah bagi industri farmasi Indonesia di kancah internasional.

Baca juga:  Investasi Keuangan: Dua Mesin Penggerak Ekonomi Indonesia yang Terus Melaju

Leave a Reply

investografi