Di media sosial, pembicaraan soal dunia kripto kian menggema. Namun anehnya, keramaian obrolan itu tidak berbanding lurus dengan aktivitas transaksi.
Justru yang terjadi sebaliknya, nilai perdagangan kripto malah turun cukup dalam.
Temuan itu terungkap dalam riset Dataxet Sonar yang tertuang dalam laporan bertajuk Indonesia’s Crypto Outlook 2026.
Dari kajian tersebut, volume percakapan mengenai kripto di media sosial meningkat sekitar 29,8 persen sepanjang 2025 dibanding tahun 2024. Total interaksi atau engagement yang membahas kripto tercatat mencapai 217,7 juta.
Sementara itu, topik blockchain mengumpulkan 3,2 juta engagement dan Web3 sebanyak 1,5 juta engagement.
Kepala Divisi Insights Dataxet Sonar, Prasetyo Katon, menyebut tingginya angka percakapan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa perhatian publik terhadap aset digital belum surut.
“Sepanjang 2025, percakapan kripto di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Ini menggambarkan tingginya perhatian publik terhadap perkembangan kripto, Web3, dan blockchain,” ujar Prasetyo dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.
Data itu menunjukkan bahwa kripto masih menjadi topik panas di ruang digital. Banyak orang membicarakan peluang investasi, tren token baru, hingga perkembangan teknologi di baliknya.
Namun ketika menengok angka transaksi, situasinya justru berbalik arah.
Sepanjang 2025, nilai transaksi aset kripto di Indonesia tercatat sebesar Rp482,23 triliun. Angka itu merosot 25,9 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp650,61 triliun.
Penurunan terjadi meski jumlah investor kripto nasional terus bertambah dan telah menembus 20,19 juta orang.
Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang antara besarnya minat publik dan rendahnya aktivitas perdagangan nyata. Banyak orang membicarakan kripto, tetapi tidak sebanyak itu yang benar-benar bertransaksi.
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab. Salah satunya adalah persoalan biaya transaksi yang dinilai belum sepenuhnya efisien.
Biaya yang relatif tinggi dianggap membuat sebagian pelaku pasar lebih memilih memindahkan aktivitas jual beli mereka ke platform luar negeri.
Situasi tersebut memunculkan risiko capital outflow atau arus modal keluar dari Indonesia. Dana yang seharusnya berputar di dalam negeri justru mengalir ke bursa kripto global.
Hal ini menunjukkan masih ada ruang besar yang perlu dibenahi agar industri kripto nasional lebih kompetitif.
Merespons kondisi tersebut, CFX sebagai bursa berjangka aset kripto di Indonesia menyiapkan langkah strategis. Mereka berencana memberikan keringanan biaya kepada anggotanya, yakni Pedagang Aset Keuangan Digital atau PAKD.
CFX menyatakan akan memangkas biaya transaksi bursa dari sebelumnya 0,04 persen menjadi 0,02 persen. Kebijakan baru itu direncanakan mulai berlaku pada 1 Maret 2026.
Penyesuaian tarif ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas dan mendorong kembali aktivitas perdagangan melalui ekosistem dalam negeri.
Langkah tersebut mendapat sambutan positif dari pelaku industri. CEO TokoCrypto, Calvin Kizana, menilai penurunan biaya transaksi merupakan strategi penting untuk menjaga daya saing pasar kripto Indonesia.
“Ketika biaya transaksi dan pengalaman perdagangan di dalam negeri belum cukup kompetitif, pengguna bisa memilih bertransaksi di exchange luar negeri.
Ini berpotensi menyebabkan capital outflow dan mengurangi likuiditas di pasar domestik,” ujar Calvin.
Menurutnya, kebijakan keringanan biaya dari CFX dapat membuka ruang bagi para anggota PAKD untuk memberikan tarif yang lebih efisien kepada pengguna akhir. Dengan begitu, aktivitas perdagangan di platform lokal bisa kembali menggeliat.
“Penurunan fee oleh CFX merupakan sinyal positif.
Dengan biaya transaksi yang lebih rendah di level bursa, PAKD punya ruang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat likuiditas, dan mendorong transaksi tetap terjadi di Indonesia,” katanya.
Calvin juga menilai tingginya percakapan publik seharusnya bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan transaksi nyata. Minat yang besar di media sosial perlu diikuti dengan ekosistem perdagangan yang lebih ramah dan kompetitif.
“Minat masyarakat terhadap kripto terlihat jelas dari percakapan yang meningkat. Tantangannya adalah memastikan industri dalam negeri mampu mengonversi minat itu menjadi aktivitas transaksi yang sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Para pelaku industri berharap rencana pemangkasan biaya transaksi ini menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali pasar kripto domestik.
Dengan biaya yang lebih rendah dan layanan yang lebih baik, investor diharapkan tidak lagi melirik platform luar negeri.
Jika kebijakan tersebut berjalan sesuai rencana, antusiasme publik yang begitu tinggi di ruang digital diharapkan bisa kembali sejalan dengan peningkatan nilai transaksi.
Tujuannya satu, agar industri aset kripto Indonesia makin kuat, likuid, dan mampu bersaing di tingkat kawasan.


Leave a Reply