Peluang pelonggaran oleh Federal Reserve—atau The Fed—kini menipis, termasuk untuk rapat kebijakan pada Juni yang sebelumnya dipandang sebagai momentum paling prospektif.

Laporan bertanggal 11 Februari mencatat tambahan 130.000 lapangan kerja sepanjang Januari, sementara tingkat pengangguran menyusut ke 4,3 persen.

Angka-angka ini meredakan kegelisahan atas tren kenaikan pengangguran yang sempat mendorong The Fed memangkas suku bunga tiga kali hingga penghujung 2025 sebelum menekan tombol jeda pada Januari. Stabilitas mulai terendus.

Ritmenya belum spektakuler, tetapi cukup untuk mengubah kalkulasi.

Dalam rapat kebijakan Januari, para pejabat bank sentral telah menyinggung sinyal-sinyal stabilisasi sebagai justifikasi mempertahankan suku bunga di level saat ini. Selepas rilis data terbaru, pelaku pasar segera merevisi ekspektasi.

Probabilitas pemangkasan pada Juni terpangkas ke bawah 50 persen, padahal sebelumnya bulan itu dianggap episentrum pelonggaran berikutnya. Sentimen berbalik arah. Cepat dan tegas.

Meski demikian, sebagian ekonom mengingatkan bahwa data Januari masih rentan terhadap revisi ke bawah. Komposisi penciptaan kerja pun terbilang timpang, dengan dominasi sektor layanan kesehatan.

Revisi data 2025 menunjukkan rerata penambahan pekerjaan hanya sekitar 15.000 per bulan—kontras dengan laporan awal yang menyebut 49.000 per bulan. Di balik angka utama, terdapat nuansa yang lebih subtil.

Kepala Ekonom AS di Santander US Capital Markets, Stephen Stanley, menilai lonjakan Januari membantu meredam kecemasan bahwa pengangguran akan terus menanjak.

Pernyataan itu hadir di tengah bayang-bayang disrupsi kecerdasan buatan serta kecenderungan korporasi menunda perekrutan. Dunia kerja sedang bertransformasi. Tidak selalu linear.

Pada 11 Februari, Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, menegaskan pentingnya mempertahankan suku bunga di teritori restriktif demi mengekang inflasi. Ia melihat belum banyak indikasi perlambatan dalam data ekonomi mutakhir. Pesannya lugas: kewaspadaan belum boleh surut.

Baca juga:  Miniatur Mobil Balap Honda Dilepas, Harganya Bikin Melongo: Rp470 Juta!

Di sisi lain spektrum, Presiden AS Donald Trump kembali mendorong penurunan suku bunga lebih lanjut.

Dalam unggahan media sosial usai publikasi data, ia menyebutnya sebagai “Great Jobs Numbers” dan berpendapat bahwa Amerika semestinya menikmati suku bunga terendah secara global.

Tekanan politik pun mengemuka, bersisian dengan independensi bank sentral.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan ruang pelonggaran masih terbuka lebar. Ia menyoroti potensi guncangan pasokan besar akibat perkembangan AI yang dapat mengakselerasi pertumbuhan tanpa memantik inflasi. Argumentasinya bertumpu pada optimisme teknologi.

Pandangan serupa digaungkan Kevin Warsh, sosok yang disebut akan dinominasikan Trump sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell setelah masa jabatan berakhir pada Mei.

Namun, para pengamat kebijakan moneter menilai terlalu prematur untuk mematok arah ekonomi hingga Juni—momen ketika Warsh berpotensi memimpin rapat pertamanya jika telah dikonfirmasi.

Kepala Ekonom Wolfe Research, Stephanie Roth, menyebut indikator utama saat ini memperlihatkan pasar tenaga kerja dan ekonomi yang menguat. Kondisi tersebut belum secara inheren menopang urgensi pemangkasan suku bunga.

“Ini membuat tugasnya sedikit lebih sulit,” ujarnya, merangkum dilema yang kini membayangi bank sentral. Seperti dikutip bloomberg.

Leave a Reply

investografi