...

Logam mulia itu naik lebih dari 1 persen setelah sempat terkoreksi singkat, seiring pasar mencerna laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.

Pembelian jangka panjang yang terus berlangsung membantu emas mendapatkan kembali momentumnya. Para pelaku pasar masih melihat emas sebagai aset lindung nilai yang kokoh, meski sentimen ekonomi Amerika menunjukkan tanda-tanda ketahanan.

Dilansir dari Reuters, harga emas tercatat naik 1 persen menjadi USD5074.29 per ounce atau sekitar Rp85.496.086 per ounce pada pukul 11.28 waktu setempat.

Sebelumnya, emas sempat menyentuh level tertinggi harian di USD5118.47 atau setara Rp86.232.620 sebelum akhirnya sedikit mereda.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup menguat 1,3 persen ke posisi USD5098.50 per ounce, setara sekitar Rp85.905.225.

Penguatan emas terjadi di tengah laporan ketenagakerjaan Amerika yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat pada Januari. Tingkat pengangguran turun ke level 4,3 persen, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup tangguh.

Kondisi tersebut memberi ruang bagi bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve untuk menahan suku bunga tetap stabil sambil terus memantau perkembangan inflasi.

Namun, data ekonomi yang positif itu tidak serta-merta menggerus minat investor terhadap emas. Banyak pelaku pasar menilai tren pembelian emas saat ini lebih didorong faktor jangka panjang ketimbang sentimen jangka pendek.

“Satu laporan pekerjaan yang kuat tidak akan menggoyahkan mentalitas di balik pembelian emas yang dianggap sebagai investasi jangka panjang dan fundamental,” ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen.

Ia menambahkan bahwa sejak mengalami kejatuhan tajam beberapa waktu lalu, emas justru menunjukkan pola pergerakan yang relatif solid.

“Sejak koreksi besar, emas sebagian besar menunjukkan pola higher highs dan higher lows, dengan pembeli yang tetap percaya diri di tengah narasi utang global dan gerakan divestasi dari Amerika Serikat,” katanya.

Baca juga:  Proyek Patimban Rp5,4 Triliun: Berapa Besar Kontribusinya untuk PTPP?

Memang, emas sempat mengalami aksi jual besar-besaran selama dua hari berturut-turut pada 30 Januari dan 2 Februari.

Penurunan itu dipicu pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunjuk kandidat baru untuk memimpin Federal Reserve.

Meski begitu, kinerja emas sepanjang tahun ini tetap impresif. Harga logam mulia tersebut sudah melonjak lebih dari 17 persen sejak awal tahun, melanjutkan kenaikan rekor yang terjadi pada tahun lalu.

Lonjakan tersebut banyak ditopang meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta pembelian emas secara agresif oleh bank-bank sentral di berbagai negara.

Dari sisi ekonomi, sejumlah data terbaru Amerika juga memberi gambaran beragam.

Laporan pada Selasa menunjukkan penjualan ritel Amerika Serikat secara tak terduga tidak berubah pada Desember, mengindikasikan potensi perlambatan belanja konsumen memasuki tahun baru.

Survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap sampai masa jabatan Ketua Jerome Powell berakhir pada Mei.

Namun, bank sentral diprediksi akan mulai menurunkan suku bunga segera setelah itu pada Juni.

Para ekonom juga memperingatkan bahwa kebijakan di bawah calon pengganti Powell, Kevin Warsh, berpotensi menjadi terlalu longgar, tergantung arah kebijakan yang diambil ke depan.

Secara historis, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung berkinerja baik pada periode ketidakpastian ekonomi atau geopolitik, serta ketika suku bunga berada pada level rendah.

Saat ini perhatian investor mulai beralih ke rilis indeks harga konsumen Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan moneter selanjutnya.

Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya.

Baca juga:  Saham First Media (KBLV) Melonjak Usai Aksi Jual Ciptadana: Siap-Siap Kejutan Selanjutnya?

Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional.

Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Leave a Reply

investografi