Angka itu membuat proyeksi harga menembus USD150 Ribu atau setara Rp25,2 miliar dalam tahun ini terdengar nyaris mustahil. Namun sejumlah firma besar Wall Street justru melihat ruang kenaikan yang sangat terbuka.
Dilansir dari Yahoo Finance, Kamis, 19 Februari 2026, salah satu penanda yang paling disorot saat ini adalah posisi Crypto Fear and Greed Index yang berada di level 13 dari skala 100. Angka tersebut mencerminkan ketakutan ekstrem di pasar.
Situasi ini bisa dibaca sebagai sinyal bahaya bahwa ada sesuatu yang salah dengan Bitcoin, tetapi di sisi lain juga bisa dimaknai sebagai fase kapitulasi investor ketika tekanan jual sudah mencapai titik jenuh.
Perubahan sentimen pasar sangat mungkin terjadi jika ada sinyal pelonggaran suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat. Penurunan suku bunga biasanya mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk kripto.
Selain itu, regulasi baru terkait kripto yang sedang disiapkan juga berpotensi menjadi katalis pembalik arah arus dana.
Gambaran lain terlihat dari besarnya dana yang masih parkir di stablecoin. Dalam kondisi risk off, investor memilih menyimpan aset di stablecoin yang nilainya menyerupai dolar digital.
Ketika selera risiko kembali pulih, dana tersebut berpotensi mengalir ke Bitcoin dan kripto lainnya.
Rasio kapitalisasi pasar Tether terhadap total kapitalisasi pasar kripto saat ini berada di kisaran 8 persen. Level tersebut menunjukkan likuiditas sebenarnya tersedia, tetapi masih menunggu momentum masuk.
Kondisi ini diperkuat oleh fakta bahwa harga Bitcoin sudah turun lebih dari 20 persen sejak awal tahun sehingga banyak pelaku pasar menahan diri.
Kenaikan harga juga dinilai akan semakin kuat jika investor institusi meningkatkan alokasi ke aset kripto. Selama ini porsi investasi mereka relatif kecil karena faktor risiko.
Padahal dalam satu dekade terakhir harga Bitcoin sudah melonjak sekitar 19.300 persen meskipun sempat mengalami koreksi tajam.
Volatilitas tinggi memang masih menjadi karakter utama Bitcoin. Saat ini posisinya sekitar 41 persen di bawah puncak harga.
Penyebab koreksi sulit ditentukan secara tunggal karena dipengaruhi banyak faktor mulai dari kebijakan moneter hingga dinamika arus dana global.
Dalam jangka panjang proyeksi kenaikan masih jauh lebih ambisius. Harga Bitcoin diperkirakan bisa mencapai USD850000 atau sekitar Rp14,3 miliar dalam sepuluh tahun ke depan.
Untuk mencapai level tersebut dari posisi USD73200 atau sekitar Rp12,3 miliar dibutuhkan kenaikan sekitar 1060 persen.
Kenaikan itu memang lebih rendah dibandingkan lonjakan historis sebelumnya karena Bitcoin kini sudah menjadi aset global yang semakin matang. Risiko yang menurun membuat potensi imbal hasil juga lebih moderat.
Perbandingan yang paling sering digunakan adalah dengan emas. Nilai emas yang beredar di atas permukaan bumi diperkirakan lebih dari USD34 triliun atau sekitar Rp572,9 kuadriliun.
Jika kapitalisasi pasar Bitcoin mampu mencapai setengahnya atau sekitar USD17 triliun setara Rp286.450 triliun, maka ruang kenaikan masih sangat besar.
Saat ini kapitalisasi pasar Bitcoin berada di kisaran USD1,26 triliun atau sekitar Rp21.231 triliun. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan kenaikan lebih dari 13 kali lipat.
Di tengah perbandingan dengan emas, kekuatan fundamental Bitcoin tetap menjadi daya tarik utama.
Aset ini mudah dipindahkan, dapat ditransaksikan secara global, bisa dipecah dalam satuan kecil, tahan terhadap sensor, dapat diverifikasi, dan memiliki batas suplai yang pasti sehingga menciptakan kelangkaan.
Karakteristik itulah yang membuat Bitcoin terus dipandang sebagai kandidat penyimpan nilai jangka panjang, meskipun dalam jangka pendek pergerakannya masih sangat dipengaruhi sentimen pasar dan likuiditas global.


Leave a Reply